alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Masalah Raperda Tak Rampung Digodok, Ananda: Yang Penting Kualitasnya

BANJARMASIN – Fungsi legislasi DPRD Banjarmasin boleh dikata macet. Memasuki Mei, belum satu pun peraturan daerah yang rampung digodok. Tampaknya, kejadian tahun 2017 bakal kembali terulang. Di mana dewan banyak berutang raperda.

Ketua DPRD Banjarmasin, Ananda tak senang dengan anggapan tersebut. Dirinya membantah bahwa DPRD bekerja lamban. Dia berkilah, pihaknya lebih mengutamakan kualitas perda tersebut.

“Buat apa terburu-buru mengejar deadline. Kalau malah mengorbankan kualitas perda itu sendiri,” ujarnya, kemarin (30/4) di gedung dewan.

Favehotel Banjarmasin

Ananda mengingatkan, ongkos pembuatan perda tidaklah murah. Perlu kajian akademis, studi banding pansus (panitia khusus) ke sejumlah daerah, dengar pendapat bersama pihak terkait, dan serangkaian rapat hingga finalisasi raperda. “Sayang sekali dengan anggaran yang terbuang,” ujarnya.

Padahal, Propemperda (Program Pembentukan Perda) 2018 sudah jauh lebih ringan. Hanya memuat 22 raperda. Bandingkan misalnya dengan Propemperda 2017 yang mencapai 35 raperda. Di mana hanya 17 raperda yang rampung digodok.

Sebagian utang raperda itu kemudian dimasukkan pada tahun ini. “Sebagian besar adalah warisan tahun 2017. Banyak yang tidak tahu. Sebagian raperda itu tak rampung bukan karena dilambat-lambatkan. Tapi menunggu kejelasan regulasi di level pusat,” jelasnya panjang lebar.

Bapemperda (Badan Pembentukan Perda) sudah sering mewanti-wanti masalah ini. Lambannya kinerja pansus bakal membuat dewan keteteran. Lantaran raperda menumpuk menjelang pengujung tahun anggaran.

Ananda mengaku sudah berkali-kali mendorong agar dewan bekerja lebih gesit. “Sekali lagi, dengan catatan tidak terburu-buru. Tetap perhatikan kualitas perdanya,” pungkas politisi Golkar tersebut.

Mengutip data Bapemperda, memasuki Mei, baru dua raperda yang mendekati finalisasi. Untuk kemudian disahkan dalam sidang paripurna. Yakni raperda tentang jaminan kesehatan untuk warga miskin dan tentang pengelolaan barang milik daerah. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Fungsi legislasi DPRD Banjarmasin boleh dikata macet. Memasuki Mei, belum satu pun peraturan daerah yang rampung digodok. Tampaknya, kejadian tahun 2017 bakal kembali terulang. Di mana dewan banyak berutang raperda.

Ketua DPRD Banjarmasin, Ananda tak senang dengan anggapan tersebut. Dirinya membantah bahwa DPRD bekerja lamban. Dia berkilah, pihaknya lebih mengutamakan kualitas perda tersebut.

“Buat apa terburu-buru mengejar deadline. Kalau malah mengorbankan kualitas perda itu sendiri,” ujarnya, kemarin (30/4) di gedung dewan.

Favehotel Banjarmasin

Ananda mengingatkan, ongkos pembuatan perda tidaklah murah. Perlu kajian akademis, studi banding pansus (panitia khusus) ke sejumlah daerah, dengar pendapat bersama pihak terkait, dan serangkaian rapat hingga finalisasi raperda. “Sayang sekali dengan anggaran yang terbuang,” ujarnya.

Padahal, Propemperda (Program Pembentukan Perda) 2018 sudah jauh lebih ringan. Hanya memuat 22 raperda. Bandingkan misalnya dengan Propemperda 2017 yang mencapai 35 raperda. Di mana hanya 17 raperda yang rampung digodok.

Sebagian utang raperda itu kemudian dimasukkan pada tahun ini. “Sebagian besar adalah warisan tahun 2017. Banyak yang tidak tahu. Sebagian raperda itu tak rampung bukan karena dilambat-lambatkan. Tapi menunggu kejelasan regulasi di level pusat,” jelasnya panjang lebar.

Bapemperda (Badan Pembentukan Perda) sudah sering mewanti-wanti masalah ini. Lambannya kinerja pansus bakal membuat dewan keteteran. Lantaran raperda menumpuk menjelang pengujung tahun anggaran.

Ananda mengaku sudah berkali-kali mendorong agar dewan bekerja lebih gesit. “Sekali lagi, dengan catatan tidak terburu-buru. Tetap perhatikan kualitas perdanya,” pungkas politisi Golkar tersebut.

Mengutip data Bapemperda, memasuki Mei, baru dua raperda yang mendekati finalisasi. Untuk kemudian disahkan dalam sidang paripurna. Yakni raperda tentang jaminan kesehatan untuk warga miskin dan tentang pengelolaan barang milik daerah. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/