alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Saturday, 13 August 2022

WADUH !!! Gedung Rawat Inap RS Suriansyah Cuma 5 Lantai

BANJARMASIN – Rancangan Rumah Sakit Sultan Suriansyah dirombak total. Gedung rawat inap yang semula direncanakan setinggi 10 lantai, dipangkas hingga tersisa lima lantai.

Kabar mengejutkan itu disampaikan langsung oleh Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina. “Proyek tetap diteruskan, tapi terpaksa harus dipangkas. Gedung induk yang mestinya punya 10 lantai, dipangkas menjadi lima lantai saja,” ujarnya, kemarin (26/3).

Ini menjawab pertanyaan publik. Dijanjikan bakal dikebut, memasuki akhir Maret, proyek di Jalan Rantauan Darat itu belum juga dilelang. “Kenapa lama? Sebab yang kami hadapi bukan sekadar revisi. Ini membongkar total desain awal,” imbuhnya.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan anggaran yang seret. Keputusan sulit ini diambil pekan lalu. Setelah rapat pembahasan persiapan lelang rumah sakit di Banjarmasin Selatan tersebut. “Lelangnya sendiri terkendala. Secepatnya akan kami lelang ulang,” lanjutnya.

Proyek vital itu mendapat alokasi Rp37 miliar. Mulanya, anggaran itu untuk penyusunan manajemen konstruksi rumah sakit. Sekaligus merampungkan gedung UGD (Unit Gawat Darurat) dan poliklinik yang lebih dulu berdiri.

“Dulu sempat bertanya-tanya, antara ya atau tidak. Apakah gedung induk dibangun tahun ini juga atau harus ditunda,” imbuhnya.

Semua demi mengejar target operasional rumah sakit pada awal tahun 2019. Dua lantai teratas dari empat lantai gedung UGD, hendak diubah untuk pelayanan rawat inap. Sembari menunggu gedung rawat inap yang sebenarnya rampung dibangun.

Dengan perubahan mendadak ini, rencana itu pun kandas. Anggaran kini difokuskan untuk membangun gedung rawat inap yang sekaligus menjadi gedung induk. Rumah sakit ini direncanakan memiliki empat gedung.

“Dulu saya pernah bilang, lupakan gedung ketiga. Saya harus meralatnya. Ternyata memang tidak bisa dipaksakan. Gedung pertama dan kedua tak bisa beroperasi tanpa terkoneksi dengan gedung ketiga,” tukas Ibnu.

Tentu tak mudah merombak desain gedung induk. Namun, Ibnu memilih fokus pada masalah terdekat. Yakni kontrak proyek yang harus segera memperoleh pemenang lelang. “Waktu yang tersisa hanya 7 bulan setengah. Anggaran Rp37 miliar ini harus terserap semuanya. Saya bakal awasi secara rigid,” tegasnya.

Penegasan itu ditekankan Ibnu. Mengingat proyek ini sempat mangkrak sepanjang tahun 2017. Akibat proses lelangnya menuai kegagalan.

Rp37 miliar itu sendiri sebenarnya merupakan silpa (sisa lebih perhitungan anggaran) dari APBD 2017. Sedangkan dari APBD 2018 dialokasikan tambahan Rp15 miliar untuk pengadaan peralatan dan sarana kesehatan.

Ditanya berapa alokasi yang dibutuhan rumah sakit ini pada tahun anggaran 2019, Ibnu menyebutkan nominal yang tak sedikit. “Kira-kira masih perlu antara Rp50 miliar sampai Rp60 miliar,” pungkasnya. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Rancangan Rumah Sakit Sultan Suriansyah dirombak total. Gedung rawat inap yang semula direncanakan setinggi 10 lantai, dipangkas hingga tersisa lima lantai.

Kabar mengejutkan itu disampaikan langsung oleh Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina. “Proyek tetap diteruskan, tapi terpaksa harus dipangkas. Gedung induk yang mestinya punya 10 lantai, dipangkas menjadi lima lantai saja,” ujarnya, kemarin (26/3).

Ini menjawab pertanyaan publik. Dijanjikan bakal dikebut, memasuki akhir Maret, proyek di Jalan Rantauan Darat itu belum juga dilelang. “Kenapa lama? Sebab yang kami hadapi bukan sekadar revisi. Ini membongkar total desain awal,” imbuhnya.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan anggaran yang seret. Keputusan sulit ini diambil pekan lalu. Setelah rapat pembahasan persiapan lelang rumah sakit di Banjarmasin Selatan tersebut. “Lelangnya sendiri terkendala. Secepatnya akan kami lelang ulang,” lanjutnya.

Proyek vital itu mendapat alokasi Rp37 miliar. Mulanya, anggaran itu untuk penyusunan manajemen konstruksi rumah sakit. Sekaligus merampungkan gedung UGD (Unit Gawat Darurat) dan poliklinik yang lebih dulu berdiri.

“Dulu sempat bertanya-tanya, antara ya atau tidak. Apakah gedung induk dibangun tahun ini juga atau harus ditunda,” imbuhnya.

Semua demi mengejar target operasional rumah sakit pada awal tahun 2019. Dua lantai teratas dari empat lantai gedung UGD, hendak diubah untuk pelayanan rawat inap. Sembari menunggu gedung rawat inap yang sebenarnya rampung dibangun.

Dengan perubahan mendadak ini, rencana itu pun kandas. Anggaran kini difokuskan untuk membangun gedung rawat inap yang sekaligus menjadi gedung induk. Rumah sakit ini direncanakan memiliki empat gedung.

“Dulu saya pernah bilang, lupakan gedung ketiga. Saya harus meralatnya. Ternyata memang tidak bisa dipaksakan. Gedung pertama dan kedua tak bisa beroperasi tanpa terkoneksi dengan gedung ketiga,” tukas Ibnu.

Tentu tak mudah merombak desain gedung induk. Namun, Ibnu memilih fokus pada masalah terdekat. Yakni kontrak proyek yang harus segera memperoleh pemenang lelang. “Waktu yang tersisa hanya 7 bulan setengah. Anggaran Rp37 miliar ini harus terserap semuanya. Saya bakal awasi secara rigid,” tegasnya.

Penegasan itu ditekankan Ibnu. Mengingat proyek ini sempat mangkrak sepanjang tahun 2017. Akibat proses lelangnya menuai kegagalan.

Rp37 miliar itu sendiri sebenarnya merupakan silpa (sisa lebih perhitungan anggaran) dari APBD 2017. Sedangkan dari APBD 2018 dialokasikan tambahan Rp15 miliar untuk pengadaan peralatan dan sarana kesehatan.

Ditanya berapa alokasi yang dibutuhan rumah sakit ini pada tahun anggaran 2019, Ibnu menyebutkan nominal yang tak sedikit. “Kira-kira masih perlu antara Rp50 miliar sampai Rp60 miliar,” pungkasnya. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/