alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Fachriyadi, Pembuat Grup Facbook Relawan di Banjarmasin

Harusnya media sosial (medsos) memang digunakan untuk hal positif. Seperti yang dilakukan anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Damkar Purna Sakti, Fachriyadi.

ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin

Yadi, begitulah panggilannya. Dia punya pandangan sendiri terhadap medsos. Tak sekadar dijadikan sebagai media hiburan, tapi sarana komunikasi dan informasi positif.

Favehotel Banjarmasin

Dari sanalah ide Yadi muncul. Membuat grup relawan di Facebook 10 tahun silam. Tepatnya 2008, saat Kota Banjarmasin dipimpin oleh Wali Kota Yudhi Wahyuni.

Grup tersebut diberi nama Pemadam Kebakaran Komunikasi Rasio dan Warga Masyarakat Banjarmasin. “Mending pakai medsos. Karena tidak semua orang punya handy talky (HT). Kalau lewat grup ini, banyak yang bisa mengakses,” katanya.

Yadi lahir di Banjarmasin, 8 Mei tahun 1982. Saat ditemui, kemarin (26/3), dia baru saja selesai memperbaiki repeater di kantor Satpol PP Banjarmasin.

Dalam kesempatan tersebut, dia lantas bercerita soal akun yang dikelolanya. Dibuat dengan tujuan untuk menyebarkan informasi tentang misi kemanusiaan.

Tapi, namanya juga medsos. Sulit untuk disaring. Dalam sehari puluhan informasi beredar di grup tersebut. Tak semua berisi informasi misi kemanusiaan. Ada juga kabar yang tak penting. Contohnya seperti memasarkan dagangan. Atau perdebatan tentang agama dan politik.

“Paling banyak sih orang tersesat. Alhamdulillah melalui grup ini informasi cepat sampai dan dapat kami bantu,” kata warga Kompleks Purna Sakti, Banjarmasin Barat tersebut.

Melalui grup tersebut, siapa saja boleh menyebarkan informasi. Asalkan berkaitan dengan misi kemanusiaan. Sebut saja, kebakaran, orang tenggelam atau hilang. “Sekecil apapun informasinya, pasti akan direspons. Kalau mau dagang, bisa posting di grup khusus dagangan,” pesannya.

Saat ini, anggota grup sudah berjumlah 127.729 orang. Tak mudah mengontrol informasi yang disebar. Namun, Yadi tetap konsisten mengelolanya.

“Kalau ada yang posting foto-foto vulgar, atau membahas mengenai politik dan agama, admin langsung menghapus. Supaya jangan sampai timbul hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Menurut Yadi, anggota grup berasal dari berbagai kalangan. Mulai orang biasa, hingga pejabat. Seperti wali kota dan anggota DPR. Ada juga anggota dari provinsi lain, bahkan luar negeri.

“Ada dari Malaysia sampai Brunai Darusalam. Bahkan Brazil juga ada. Pokoknya banyak. Saya juga kurang mengerti kenapa bisa sampai sebanyak itu,” ucapnya.

Yadi punya harapan. Keberadaan grup tersebut bisa mempererat tali persaudaraan. Plus, membantu orang yang tengah dilanda musibah. “Niat tulus saya hanya ingin membantu. Semoga bisa bermanfaat buat banyak orang,” harapnya. (at/nur)

Harusnya media sosial (medsos) memang digunakan untuk hal positif. Seperti yang dilakukan anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Damkar Purna Sakti, Fachriyadi.

ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin

Yadi, begitulah panggilannya. Dia punya pandangan sendiri terhadap medsos. Tak sekadar dijadikan sebagai media hiburan, tapi sarana komunikasi dan informasi positif.

Favehotel Banjarmasin

Dari sanalah ide Yadi muncul. Membuat grup relawan di Facebook 10 tahun silam. Tepatnya 2008, saat Kota Banjarmasin dipimpin oleh Wali Kota Yudhi Wahyuni.

Grup tersebut diberi nama Pemadam Kebakaran Komunikasi Rasio dan Warga Masyarakat Banjarmasin. “Mending pakai medsos. Karena tidak semua orang punya handy talky (HT). Kalau lewat grup ini, banyak yang bisa mengakses,” katanya.

Yadi lahir di Banjarmasin, 8 Mei tahun 1982. Saat ditemui, kemarin (26/3), dia baru saja selesai memperbaiki repeater di kantor Satpol PP Banjarmasin.

Dalam kesempatan tersebut, dia lantas bercerita soal akun yang dikelolanya. Dibuat dengan tujuan untuk menyebarkan informasi tentang misi kemanusiaan.

Tapi, namanya juga medsos. Sulit untuk disaring. Dalam sehari puluhan informasi beredar di grup tersebut. Tak semua berisi informasi misi kemanusiaan. Ada juga kabar yang tak penting. Contohnya seperti memasarkan dagangan. Atau perdebatan tentang agama dan politik.

“Paling banyak sih orang tersesat. Alhamdulillah melalui grup ini informasi cepat sampai dan dapat kami bantu,” kata warga Kompleks Purna Sakti, Banjarmasin Barat tersebut.

Melalui grup tersebut, siapa saja boleh menyebarkan informasi. Asalkan berkaitan dengan misi kemanusiaan. Sebut saja, kebakaran, orang tenggelam atau hilang. “Sekecil apapun informasinya, pasti akan direspons. Kalau mau dagang, bisa posting di grup khusus dagangan,” pesannya.

Saat ini, anggota grup sudah berjumlah 127.729 orang. Tak mudah mengontrol informasi yang disebar. Namun, Yadi tetap konsisten mengelolanya.

“Kalau ada yang posting foto-foto vulgar, atau membahas mengenai politik dan agama, admin langsung menghapus. Supaya jangan sampai timbul hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Menurut Yadi, anggota grup berasal dari berbagai kalangan. Mulai orang biasa, hingga pejabat. Seperti wali kota dan anggota DPR. Ada juga anggota dari provinsi lain, bahkan luar negeri.

“Ada dari Malaysia sampai Brunai Darusalam. Bahkan Brazil juga ada. Pokoknya banyak. Saya juga kurang mengerti kenapa bisa sampai sebanyak itu,” ucapnya.

Yadi punya harapan. Keberadaan grup tersebut bisa mempererat tali persaudaraan. Plus, membantu orang yang tengah dilanda musibah. “Niat tulus saya hanya ingin membantu. Semoga bisa bermanfaat buat banyak orang,” harapnya. (at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/