alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Begini Uniknya Rumah Alam di Sungai Andai

Pasangan Noorhalis Majid dan Rakhmalina Bakhriati sudah lama memimpikan tinggal di Bubungan Tinggi. Sadar rumah adat Banjar itu menuntut terlalu banyak kayu ulin, konsepnya dirombak menjadi hunian tropis.

Rumah Alam berdiri di Sungai Andai, salah satu permukiman terpadat di Banjarmasin. Persisnya di Kompleks Andai Jaya Persada Blok D. Penulis mengunjunginya pada Kamis (22/3) sore. Disambut oleh Rakhmalina Bakhriati, 42 tahun.

Lina, sapaan akrabnya, mengenakan kemeja Sasirangan. Dipadukan celana jins biru dan kerudung warna kuning cerah. “Mari masuk. Suami kebetulan masih ada kesibukan,” ujarnya tersenyum. Suaminya adalah Noorhalis Majid, 48 tahun. Yang lebih dikenal publik Banjarmasin sebagai Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalsel.

Favehotel Banjarmasin

Rumah Alam tersembunyi dari jalan kompleks. Untuk mencapainya, harus berjalan kaki melewati titian (jembatan kecil) yang beratap daun rumbia. Gerbangnya dihiasi boneka burung hantu dari kayu. Di bawah titian ada kolam-kolam ikan.

Lingkungan ini teduh karena ditanami banyak pohon. Seperti mangga, rambutan, belimbing, sawo, markisa, pisang, jambu air, jeruk purut, matoa, jengkol hingga petai. Ditambah tanaman hias seperti anggrek, mawar, angsoka dan kembang sepatu.

Rumah Alam sebenarnya nama julukan yang diberikan oleh kerabat, teman dan pengunjung. “Dipikir-pikir, ini nama yang enak disebut dan mudah diingat. Ya sudah, sekalian saja kami namai Rumah Alam LINS,” ujarnya.

Keempat huruf dalam LINS diambil dari potongan-potongan nama Noorhalis dan Rakhmalina. “Agak maksa sih sebenarnya,” imbuhnya tertawa. Keduanya menikah pada tahun 1998 dan dikaruniai dua anak. Naufal Lisna Reisya yang lahir pada tahun 1999. Disusul Haekal Halis Pasha yang lahir pada tahun 2005.

LINS juga pernah dipakai untuk sebuah merek. Bisnis produk kerajinan tangan yang dulu digeluti Lina. “LINS berdiri sejak tahun 1999 dan kemudian vakum. Kami pakai lagi untuk mengenang perjuangan awal-awal menikah,” kisahnya.

Keluarga ini mulai tinggal di Sungai Andai sejak tahun 2012. Noorhalis kemudian membeli tanah seluas 1.200 meter persegi di belakang rumah. Sebelum Rumah Alam berdiri, tanah kosong itu berupa padang rawa dan hutan.

Rumah Alam mulai dikerjakan pada tahun 2016. Sekarang, rumah seluas 300 meter persegi itu sudah mendekati rampung. “Baru 90 persen. Tinggal menyelesaikan kolam renangnya,” jelas alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari ini.

Awalnya, mereka hendak membangun Bubungan Tinggi. Masalahnya, rumah tradisional kebanggaan Suku Banjar itu menuntut terlalu banyak kayu ulin. “Terasa kurang sreg. Sedari awal kami memang bertekad untuk sesedikit mungkin menebang pohon,” tegasnya.

Seorang teman datang membantu. Namanya Thomas Bronningman, arsitek berkebangsaan Swiss. Yang jatuh cinta pada Indonesia dan kemudian memutuskan tinggal di Palangkaraya. Thomas menyarankan konsep berbeda, yakni tropical lifestyle.

Belakangan, Thomas menyerahkan corat-coret desain. Terkesan, keduanya seketika menganggukkan kepala tanda setuju. “Namun, Thomas memberi peringatan. Tinggal di rumah begini jangan mengeluh dengan nyamuk dan semut. Ternyata semua itu tidak mengada-ada,” ujarnya tertawa.

Tiang utama rumah memakai sebatang pohon ketapi. Tiang penyokong lain menggunakan batangan pohon kelapa. Pagar dan pintu dari kayu ulin. Sisa kekurangan, ditutupi kayu rukam dan bangkal. Yang menarik, batang-batang pohon itu merupakan sisa pembersihan lahan untuk pembangunan rumah.

“Dulu di sini hutan lebat. Pohon-pohon yang ditebang tidak dibuang. Dimanfaatkan lagi untuk rumah ini,” bebernya. Untuk tembok rumah, menggunakan batu bata merah dan bambu. Bambu didatangkan dari Loksado, Hulu Sungai Selatan. Yang terkenal dengan objek wisata bamboo rafting, arung jeram menaiki lanting.

Sementara plafon menggunakan lampit (tikar anyaman rotan) dari Amuntai, Hulu Sungai Utara. Lampit juga dijadikan sebagai tikar lantai. Sedangkan atap rumah menggunakan sirap yang berasal dari Liang Anggang, Banjarbaru. “Saya jamin, 100 persen tak ada yang impor,” tegasnya.

Karena gagasan awalnya membangun rumah yang menyatu dengan alam, bahan-bahan yang tak ramah lingkungan sengaja dijauhi. Misalkan kolam renang. Airnya tidak dibersihkan dengan bahan kimia. Melainkan dengan saringan tradisional seperti pasir, batu kali dan ijuk.

Rumah ini punya dua teras, satu ruang tamu, dua dapur dan empat kamar tidur. Tiga untuk kamar keluarga dan satu dikosongkan untuk menerima tamu. Kamar mandi menyatu dengan setiap kamar. Karena terbilang besar, terbersit ide untuk mengkomersialkan sebagian area rumah. “Iya, untuk bisnis rumah makan. Tapi fokus merampungkan dulu deh,” tukasnya.

Kebetulan, di halaman samping masih ada tanah kosong. Niatnya diisi dengan pondok lesehan. Guna dipakai LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan). Tempat pasangan ini bergiat sejak zaman kuliah. “Kawan-kawan LK3 banyak membantu. Rak buku dari bambu itu mereka yang mengerjakannya,” tunjuknya.

Saat ini, Rumah Alam baru ditiduri pada akhir pekan. Jika sudah tuntas 100 persen, rumah kompleks di depan akan dikosongkan. Dimaksimalkan untuk pelatihan-pelatihan kemasyarakatan. “Contoh, tadi kami menyediakan tempat untuk pelatihan menjahit bagi teman-teman transpuan,” ujarnya.

Ditodong berapa biaya pembangunan rumah, Lina malah tertawa. “Aduh, kalau saya sebut nanti disebut sombong,” pungkasnya. (fud)

Pasangan Noorhalis Majid dan Rakhmalina Bakhriati sudah lama memimpikan tinggal di Bubungan Tinggi. Sadar rumah adat Banjar itu menuntut terlalu banyak kayu ulin, konsepnya dirombak menjadi hunian tropis.

Rumah Alam berdiri di Sungai Andai, salah satu permukiman terpadat di Banjarmasin. Persisnya di Kompleks Andai Jaya Persada Blok D. Penulis mengunjunginya pada Kamis (22/3) sore. Disambut oleh Rakhmalina Bakhriati, 42 tahun.

Lina, sapaan akrabnya, mengenakan kemeja Sasirangan. Dipadukan celana jins biru dan kerudung warna kuning cerah. “Mari masuk. Suami kebetulan masih ada kesibukan,” ujarnya tersenyum. Suaminya adalah Noorhalis Majid, 48 tahun. Yang lebih dikenal publik Banjarmasin sebagai Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalsel.

Favehotel Banjarmasin

Rumah Alam tersembunyi dari jalan kompleks. Untuk mencapainya, harus berjalan kaki melewati titian (jembatan kecil) yang beratap daun rumbia. Gerbangnya dihiasi boneka burung hantu dari kayu. Di bawah titian ada kolam-kolam ikan.

Lingkungan ini teduh karena ditanami banyak pohon. Seperti mangga, rambutan, belimbing, sawo, markisa, pisang, jambu air, jeruk purut, matoa, jengkol hingga petai. Ditambah tanaman hias seperti anggrek, mawar, angsoka dan kembang sepatu.

Rumah Alam sebenarnya nama julukan yang diberikan oleh kerabat, teman dan pengunjung. “Dipikir-pikir, ini nama yang enak disebut dan mudah diingat. Ya sudah, sekalian saja kami namai Rumah Alam LINS,” ujarnya.

Keempat huruf dalam LINS diambil dari potongan-potongan nama Noorhalis dan Rakhmalina. “Agak maksa sih sebenarnya,” imbuhnya tertawa. Keduanya menikah pada tahun 1998 dan dikaruniai dua anak. Naufal Lisna Reisya yang lahir pada tahun 1999. Disusul Haekal Halis Pasha yang lahir pada tahun 2005.

LINS juga pernah dipakai untuk sebuah merek. Bisnis produk kerajinan tangan yang dulu digeluti Lina. “LINS berdiri sejak tahun 1999 dan kemudian vakum. Kami pakai lagi untuk mengenang perjuangan awal-awal menikah,” kisahnya.

Keluarga ini mulai tinggal di Sungai Andai sejak tahun 2012. Noorhalis kemudian membeli tanah seluas 1.200 meter persegi di belakang rumah. Sebelum Rumah Alam berdiri, tanah kosong itu berupa padang rawa dan hutan.

Rumah Alam mulai dikerjakan pada tahun 2016. Sekarang, rumah seluas 300 meter persegi itu sudah mendekati rampung. “Baru 90 persen. Tinggal menyelesaikan kolam renangnya,” jelas alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari ini.

Awalnya, mereka hendak membangun Bubungan Tinggi. Masalahnya, rumah tradisional kebanggaan Suku Banjar itu menuntut terlalu banyak kayu ulin. “Terasa kurang sreg. Sedari awal kami memang bertekad untuk sesedikit mungkin menebang pohon,” tegasnya.

Seorang teman datang membantu. Namanya Thomas Bronningman, arsitek berkebangsaan Swiss. Yang jatuh cinta pada Indonesia dan kemudian memutuskan tinggal di Palangkaraya. Thomas menyarankan konsep berbeda, yakni tropical lifestyle.

Belakangan, Thomas menyerahkan corat-coret desain. Terkesan, keduanya seketika menganggukkan kepala tanda setuju. “Namun, Thomas memberi peringatan. Tinggal di rumah begini jangan mengeluh dengan nyamuk dan semut. Ternyata semua itu tidak mengada-ada,” ujarnya tertawa.

Tiang utama rumah memakai sebatang pohon ketapi. Tiang penyokong lain menggunakan batangan pohon kelapa. Pagar dan pintu dari kayu ulin. Sisa kekurangan, ditutupi kayu rukam dan bangkal. Yang menarik, batang-batang pohon itu merupakan sisa pembersihan lahan untuk pembangunan rumah.

“Dulu di sini hutan lebat. Pohon-pohon yang ditebang tidak dibuang. Dimanfaatkan lagi untuk rumah ini,” bebernya. Untuk tembok rumah, menggunakan batu bata merah dan bambu. Bambu didatangkan dari Loksado, Hulu Sungai Selatan. Yang terkenal dengan objek wisata bamboo rafting, arung jeram menaiki lanting.

Sementara plafon menggunakan lampit (tikar anyaman rotan) dari Amuntai, Hulu Sungai Utara. Lampit juga dijadikan sebagai tikar lantai. Sedangkan atap rumah menggunakan sirap yang berasal dari Liang Anggang, Banjarbaru. “Saya jamin, 100 persen tak ada yang impor,” tegasnya.

Karena gagasan awalnya membangun rumah yang menyatu dengan alam, bahan-bahan yang tak ramah lingkungan sengaja dijauhi. Misalkan kolam renang. Airnya tidak dibersihkan dengan bahan kimia. Melainkan dengan saringan tradisional seperti pasir, batu kali dan ijuk.

Rumah ini punya dua teras, satu ruang tamu, dua dapur dan empat kamar tidur. Tiga untuk kamar keluarga dan satu dikosongkan untuk menerima tamu. Kamar mandi menyatu dengan setiap kamar. Karena terbilang besar, terbersit ide untuk mengkomersialkan sebagian area rumah. “Iya, untuk bisnis rumah makan. Tapi fokus merampungkan dulu deh,” tukasnya.

Kebetulan, di halaman samping masih ada tanah kosong. Niatnya diisi dengan pondok lesehan. Guna dipakai LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan). Tempat pasangan ini bergiat sejak zaman kuliah. “Kawan-kawan LK3 banyak membantu. Rak buku dari bambu itu mereka yang mengerjakannya,” tunjuknya.

Saat ini, Rumah Alam baru ditiduri pada akhir pekan. Jika sudah tuntas 100 persen, rumah kompleks di depan akan dikosongkan. Dimaksimalkan untuk pelatihan-pelatihan kemasyarakatan. “Contoh, tadi kami menyediakan tempat untuk pelatihan menjahit bagi teman-teman transpuan,” ujarnya.

Ditodong berapa biaya pembangunan rumah, Lina malah tertawa. “Aduh, kalau saya sebut nanti disebut sombong,” pungkasnya. (fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/