alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Kembali ke Titik Nol, Tawur Agung Sangat Penting Menjaga Keseimbangan

BANJARMASIN – Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Banjarmasin melaksanakan upacara Tawur Agung. Terpusat di Pura Agung Jagat Natha, Jalan Gatot Subroto, kemarin (16/3) sore.

Wakil Ketua Suka Duka Pura Agung Jagat Natha, Made Supana mengatakan, Tawur Agung adalah upacara persembahan untuk menyeimbangkan alam semesta. Lazimnya digelar di perempatan jalan kota, tapi tak saklek, di pura pun boleh.

“Sama seperti Nyepi, Tawur Agung adalah upaya untuk kembali ke titik nol. Yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan,” terangnya.

Favehotel Banjarmasin

Dalam hidup yang semakin hiruk-pikuk, penuh kompetisi dan aral, penting untuk sejenak hening. Berdiam dan rehat. “Besok dalam Nyepi, diri menjadi kosong. Lusanya kembali ada. Dari tiada kembali tercipta. Tujuannya mencari keseimbangan,” imbuhnya.

Sebelumnya, umat Hindu di Banjarmasin melaksanakan ritual Melasti. “Tiga hari yang lalu kami Melasti di Sungai Loban (Kabupaten Tanah Bumbu),” sambung Ketua Suka Duka Pura Agung Jagat Natha, Wayan Karyana.

Jika Tawur Agung mencari keseimbangan, maka Melasti mencari kesucian. Membersihkan jagat, lebih-lebih pribadi dari kekotoran. Penyucian penting sebelum memasuki fase introspeksi diri yang menjadi inti Nyepi.

Kemana kekotoran itu dibuang? Jawabnya ke laut. Karena laut dianggap sebagai muara segala sesuatu. Dari yang baik hingga yang buruk. “Dari Melasti menuju Nyepi, sehari setelahnya ada Ngembak Geni,” imbuh Wayan.

Dalam Ngembak Geni atau biasa juga disebut Ngembak Api, keluarga dan tetangga berkumpul dan bertamu. Mengucapkan syukur dan saling memaafkan. Demi lembaran tahun baru yang bersih. “Karena itulah inti sebagai makhluk tuhan,” tukasnya.

Hari Raya Nyepi 2018 jatuh pada Tahun Saka 1940. Dalam Nyepi, umat Hindu berdiam diri dalam senyap. Tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menyimak hiburan. (fud)

BANJARMASIN – Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Banjarmasin melaksanakan upacara Tawur Agung. Terpusat di Pura Agung Jagat Natha, Jalan Gatot Subroto, kemarin (16/3) sore.

Wakil Ketua Suka Duka Pura Agung Jagat Natha, Made Supana mengatakan, Tawur Agung adalah upacara persembahan untuk menyeimbangkan alam semesta. Lazimnya digelar di perempatan jalan kota, tapi tak saklek, di pura pun boleh.

“Sama seperti Nyepi, Tawur Agung adalah upaya untuk kembali ke titik nol. Yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan,” terangnya.

Favehotel Banjarmasin

Dalam hidup yang semakin hiruk-pikuk, penuh kompetisi dan aral, penting untuk sejenak hening. Berdiam dan rehat. “Besok dalam Nyepi, diri menjadi kosong. Lusanya kembali ada. Dari tiada kembali tercipta. Tujuannya mencari keseimbangan,” imbuhnya.

Sebelumnya, umat Hindu di Banjarmasin melaksanakan ritual Melasti. “Tiga hari yang lalu kami Melasti di Sungai Loban (Kabupaten Tanah Bumbu),” sambung Ketua Suka Duka Pura Agung Jagat Natha, Wayan Karyana.

Jika Tawur Agung mencari keseimbangan, maka Melasti mencari kesucian. Membersihkan jagat, lebih-lebih pribadi dari kekotoran. Penyucian penting sebelum memasuki fase introspeksi diri yang menjadi inti Nyepi.

Kemana kekotoran itu dibuang? Jawabnya ke laut. Karena laut dianggap sebagai muara segala sesuatu. Dari yang baik hingga yang buruk. “Dari Melasti menuju Nyepi, sehari setelahnya ada Ngembak Geni,” imbuh Wayan.

Dalam Ngembak Geni atau biasa juga disebut Ngembak Api, keluarga dan tetangga berkumpul dan bertamu. Mengucapkan syukur dan saling memaafkan. Demi lembaran tahun baru yang bersih. “Karena itulah inti sebagai makhluk tuhan,” tukasnya.

Hari Raya Nyepi 2018 jatuh pada Tahun Saka 1940. Dalam Nyepi, umat Hindu berdiam diri dalam senyap. Tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menyimak hiburan. (fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/