alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Monday, 4 July 2022

Menyulap Kereta Api Mini Jadi Media Grafiti

BANJARMASIN – Dentuman musik hip-hop menghentak suasana Hello Coffee, kemarin siang (4/3). Warung kopi yang beralamat di Jalan Jafri Zam-Zam itu sedang ramai oleh belasan pemuda. Tangan mereka lincah mencoretkan pensil warna ke media kertas bergambar.

Belasan seniman itu adalah gabungan dari komunitas grafiti se Kalsel. Datang ke Hello Coffee untuk mengikuti lomba sketch & tagging battle. Kompetisi digelar oleh gabungan komunitas lokal. Bernama Bilik Bersenyawa.

Perwakilan Bilik Bersenyawa, Jefri menyebut sketch & tagging battle merupakan ajang kumpul bersama para pelaku dan penikmat seni grafiti di Kalsel. “Pertama kalinya, kami menggelar seperti ini. Ada 18 orang yang ikut,” ujar Big Jeff. Jefri biasa dipanggil dengan sebutan itu.

Favehotel Banjarmasin

Jika biasanya aktivitas grafiti dilakukan di tempat terbuka, lain lagi dengan yang ini. Digelar di dalam ruangan. Media gambarnya pun tak biasa. Bentuknya mini, bukan tembok besar.

Peserta lomba diberikan media lukis berupa kertas bergambar yang kemudian dibentuk menjadi miniatur kereta api. “Jadi, mereka mesti menggambar sketsa grafiti untuk menambah estetika atau keindahan dari kereta api itu sendiri,” terangnya.

Pemilihan konsep kereta api ternyata menyimpan misi. “Kenapa kereta api? Ini bentuk protes kami karena Kalimantan Selatan sampai sekarang belum punya alat tranportasi seperti itu,” katanya. Bagi Big Jeff, beragam cara bisa dilakukan untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah. Termasuk dengan seni grafiti.

Tak cuma dalam ruangan, Bilik Bersenyawa berencana menggelar kompetisi grafiti dengan konsep outdoor. Artinya, tembok-tembok polos Kota Banjarmasin bakal mereka incar untuk dijadikan media gambar.

Big Jeff tak khawatir soal pandangan Pemko Banjarmasin terkait seni grafiti. “Selama tak merusak, jalani saja. Keluhan biasanya hanya datang dari pemilik tembok,” ungkapnya.

Sementara itu, Rian, pelaku seni grafiti dari D’Zink Bomber Banjarbaru berpendapat seni grafiti bukan sekadar corat-coret tak bermakna. Menurutnya, setiap gambar yang mereka buat punya arti.

“Banyak anggapan datang bahwa grafiti merupakan tindakan dari vandalisme atau merusak. Tidak seperti itu. Ini bukan tulisan-tulisan tidak jelas yang sering menampilkan gambar dan kata-kata kotor. Setiap lukisan yang kami coret punya makna,” tegasnya.

Seperti halnya Big Jeff, Rian berharap pemerintah daerah bisa lebih  terbuka dan menerima komunitas grafiti. Agar bisa berkreasi dengan leluasa. Tanpa bayang-bayang anggapan negatif oleh para penguasa. (dom/ma/nur)

BANJARMASIN – Dentuman musik hip-hop menghentak suasana Hello Coffee, kemarin siang (4/3). Warung kopi yang beralamat di Jalan Jafri Zam-Zam itu sedang ramai oleh belasan pemuda. Tangan mereka lincah mencoretkan pensil warna ke media kertas bergambar.

Belasan seniman itu adalah gabungan dari komunitas grafiti se Kalsel. Datang ke Hello Coffee untuk mengikuti lomba sketch & tagging battle. Kompetisi digelar oleh gabungan komunitas lokal. Bernama Bilik Bersenyawa.

Perwakilan Bilik Bersenyawa, Jefri menyebut sketch & tagging battle merupakan ajang kumpul bersama para pelaku dan penikmat seni grafiti di Kalsel. “Pertama kalinya, kami menggelar seperti ini. Ada 18 orang yang ikut,” ujar Big Jeff. Jefri biasa dipanggil dengan sebutan itu.

Favehotel Banjarmasin

Jika biasanya aktivitas grafiti dilakukan di tempat terbuka, lain lagi dengan yang ini. Digelar di dalam ruangan. Media gambarnya pun tak biasa. Bentuknya mini, bukan tembok besar.

Peserta lomba diberikan media lukis berupa kertas bergambar yang kemudian dibentuk menjadi miniatur kereta api. “Jadi, mereka mesti menggambar sketsa grafiti untuk menambah estetika atau keindahan dari kereta api itu sendiri,” terangnya.

Pemilihan konsep kereta api ternyata menyimpan misi. “Kenapa kereta api? Ini bentuk protes kami karena Kalimantan Selatan sampai sekarang belum punya alat tranportasi seperti itu,” katanya. Bagi Big Jeff, beragam cara bisa dilakukan untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah. Termasuk dengan seni grafiti.

Tak cuma dalam ruangan, Bilik Bersenyawa berencana menggelar kompetisi grafiti dengan konsep outdoor. Artinya, tembok-tembok polos Kota Banjarmasin bakal mereka incar untuk dijadikan media gambar.

Big Jeff tak khawatir soal pandangan Pemko Banjarmasin terkait seni grafiti. “Selama tak merusak, jalani saja. Keluhan biasanya hanya datang dari pemilik tembok,” ungkapnya.

Sementara itu, Rian, pelaku seni grafiti dari D’Zink Bomber Banjarbaru berpendapat seni grafiti bukan sekadar corat-coret tak bermakna. Menurutnya, setiap gambar yang mereka buat punya arti.

“Banyak anggapan datang bahwa grafiti merupakan tindakan dari vandalisme atau merusak. Tidak seperti itu. Ini bukan tulisan-tulisan tidak jelas yang sering menampilkan gambar dan kata-kata kotor. Setiap lukisan yang kami coret punya makna,” tegasnya.

Seperti halnya Big Jeff, Rian berharap pemerintah daerah bisa lebih  terbuka dan menerima komunitas grafiti. Agar bisa berkreasi dengan leluasa. Tanpa bayang-bayang anggapan negatif oleh para penguasa. (dom/ma/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/