alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Bukan Kebetulan Jadi Admin Go-Kelotok

 

LEWAT Go-Kelotok, pengguna bisa memesan wisata susur sungai via online. Ketika tombol order diklik, sebenarnya pegguna tak langsung terhubung dengan motoris. Ada seorang perantara alias admin aplikasi. Siapakah dia?

Namanya Nur Ismy, usianya baru 24 tahun. Perempuan berkerudung ini pegawai di Bagian Pengembangan Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin.

Favehotel Banjarmasin

Ketika ditemui Radar Banjarmasin, Rabu (28/2) siang di Siring Pierre Tendean, ia sedang memelototi laptopnya. Dahinya tampak berkeringat. Ismy baru saja berkeliling naik kelotok.

Mengujicoba aplikasi unggulan Banjarmasin Smart City tersebut. Dia tampak puas. “Hasilnya bagus. Pergerakan kelotok di atas sungai terpantau dengan baik dalam peta aplikasi,” ungkapnya.

Selain sebuah komputer jinjing, pekerjaannya juga didukung dua buah smartphone. Dengan cekatan kedua tangannya memindah-mindahkan kedua gadget tersebut.

Sejak didapuk sebagai admin Go-Kelotok, Ismy menemukan kebiasaan baru. Siapa saja yang bertemu dengannya sembari memegang Android, pasti ditodong. “Sudah mengunduh Go-Kelotok? Cari dong di Playstore!” ujarnya tergelak.

Aplikasi ini memang baru bisa dinikmati pengguna Android. Belum ada versi untuk pengguna iOS milik iPhone.

Disebut admin sekalipun, tugas Ismy tak bisa disebut gampang. Aplikasi ini aktif tanpa hari libur. Meski baru 11 kelotok yang menyatakan bergabung dari total 80 kelotok di kota ini.

Lulusan Universitas Lambung Mangkurat ini juga harus siap menghadapi berbagai macam keluhan atau protes dari pengguna. Sebab, dalam Go-Kelotok ada fitur aduan untuk penumpang.

Jika ternyata layanan wisata susur sungai yang diberikan motorisnya jelek, Ismy lah yang menampung. “Saya kemudian yang mendekati si paman kelotok. Menyampaikan teguran secara halus dari penumpang,” jelasnya.

Sebenarnya, pemilihan Ismy menjadi admin Go-Kelotok bukan suatu kebetulan. Ketika aplikasi itu ditawarkan pada pemko dan mencuat ke publik, tak banyak motoris kelotok yang antusias. Alasannya, sudah kadung nyaman dengan sistem offline.

Bahu-membahu Disbudpar mendekati motoris. Membujuk mereka untuk bergabung. Ismy terlibat banyak dalam sosialisasi. “Baru 11 kelotok yang go online. Tak apa. Ketika yang lain melihat ini bagus, pasti tertarik bergabung. Masa iya mau ketinggalan,” pungkasnya bersemangat. (fud)

 

 

LEWAT Go-Kelotok, pengguna bisa memesan wisata susur sungai via online. Ketika tombol order diklik, sebenarnya pegguna tak langsung terhubung dengan motoris. Ada seorang perantara alias admin aplikasi. Siapakah dia?

Namanya Nur Ismy, usianya baru 24 tahun. Perempuan berkerudung ini pegawai di Bagian Pengembangan Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin.

Favehotel Banjarmasin

Ketika ditemui Radar Banjarmasin, Rabu (28/2) siang di Siring Pierre Tendean, ia sedang memelototi laptopnya. Dahinya tampak berkeringat. Ismy baru saja berkeliling naik kelotok.

Mengujicoba aplikasi unggulan Banjarmasin Smart City tersebut. Dia tampak puas. “Hasilnya bagus. Pergerakan kelotok di atas sungai terpantau dengan baik dalam peta aplikasi,” ungkapnya.

Selain sebuah komputer jinjing, pekerjaannya juga didukung dua buah smartphone. Dengan cekatan kedua tangannya memindah-mindahkan kedua gadget tersebut.

Sejak didapuk sebagai admin Go-Kelotok, Ismy menemukan kebiasaan baru. Siapa saja yang bertemu dengannya sembari memegang Android, pasti ditodong. “Sudah mengunduh Go-Kelotok? Cari dong di Playstore!” ujarnya tergelak.

Aplikasi ini memang baru bisa dinikmati pengguna Android. Belum ada versi untuk pengguna iOS milik iPhone.

Disebut admin sekalipun, tugas Ismy tak bisa disebut gampang. Aplikasi ini aktif tanpa hari libur. Meski baru 11 kelotok yang menyatakan bergabung dari total 80 kelotok di kota ini.

Lulusan Universitas Lambung Mangkurat ini juga harus siap menghadapi berbagai macam keluhan atau protes dari pengguna. Sebab, dalam Go-Kelotok ada fitur aduan untuk penumpang.

Jika ternyata layanan wisata susur sungai yang diberikan motorisnya jelek, Ismy lah yang menampung. “Saya kemudian yang mendekati si paman kelotok. Menyampaikan teguran secara halus dari penumpang,” jelasnya.

Sebenarnya, pemilihan Ismy menjadi admin Go-Kelotok bukan suatu kebetulan. Ketika aplikasi itu ditawarkan pada pemko dan mencuat ke publik, tak banyak motoris kelotok yang antusias. Alasannya, sudah kadung nyaman dengan sistem offline.

Bahu-membahu Disbudpar mendekati motoris. Membujuk mereka untuk bergabung. Ismy terlibat banyak dalam sosialisasi. “Baru 11 kelotok yang go online. Tak apa. Ketika yang lain melihat ini bagus, pasti tertarik bergabung. Masa iya mau ketinggalan,” pungkasnya bersemangat. (fud)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/