alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Thursday, 11 August 2022

Ayo Kenalan Sama Pencipta Go-Kelotok, Pesaing Go-Jek

Go-Kelotok adalah buah karya lima anak muda Banjarmasin. Menyandang nama View, demi kemajuan kota, tim ini rela memberi harga diskon untuk penjualan aplikasi kepada pemko.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

MUHAMMAD Junaidi dan kawan-kawan merupakan anak didik Prof Suhono Harso Supangkat. Guru Besar ITB (Institut Teknologi Bandung) yang dikenal sebagai pencetus Smart City.

Pertemuan bermula dari C-Gen Festival bertajuk City Changemakers. Dihelat pertengahan 2017 lalu di Bandung. Ini ajang kongkow komunitas anak muda yang jatuh cinta pada teknologi informasi.

Di situ, Junaidi dan tim memaparkan sekilas tentang Banjarmasin kepada peserta festival. “Tercetus ide aplikasi Ayo ke Banjarmasin,” ungkap pemuda 26 tahun ini.

Penulis berbincang dengan Junaidi dan dua anggota tim, Muhammad Riza Rahmani, 27 tahun dan Okky Rahmanto, 25 tahun. Dua anggota lain yang tak tampak adalah Muhammad Aldi Perdana dan Muhammad Muzakkir.

Kami bertemu di Rumah Anno 1925, Siring Pierre Tendean, kemarin (28/2) siang. Seusai uji coba Go-Kelotok yang diikuti sebelas buah kelotok di dermaga Menara Pandang.

Lima sekawan ini sudah lama nongkrong bareng karena sama-sama kuliah di Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Junaidi dan Riza dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sedangkan Okky dari Fakultas Matematika dan IPA.

Tim ini diberi nama View. Berasal dari Bahasa Inggris yang artinya melihat, bisa juga diartikan pemandangan. Jendela mereka jadikan sebagai logo. “Filosofinya, dari sebuah jendela kami ingin memandang sesuatu dari sisi berbeda,” imbuhnya.

Go-Kelotok lahir belakangan setelah obrolan dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banjarmasin, Hermansyah. “Bermula dari obrolan biasa. Kemudian berlanjut pada tawaran. Kami pikir kenapa tidak,” ujarnya.

Pembuatan aplikasi tak menghabiskan waktu banyak, hanya dua bulan. Ditekankannya, bagian tersulit dari pekerjaan ini bukan lah pembuatan perangkat lunak. Melainkan pengamatan, wawancara lapangan dan kajian. Yang kemudian menjadi bahan penyusunan konsep. Jika tahap awal ini gagal, dipastikan aplikasi tak terpakai. Lantaran meleset dari kebutuhan pengguna.

“Pesan Prof Suhono, Smart City bukan soal berlomba banyak-banyakan aplikasi. Tapi apakah mengena atau tidak untuk kebutuhan masyarakat? Bisa menaikkan taraf kesejahteraan atau tidak? Itu intinya,” tegas Junaidi.

Meski terdengar mirip, Go-Kelotok sebenarnya memiliki banyak perbedaan dengan Go-Jek. Pemesanan kelotok bersifat carter, tak bisa dadakan. Harus dikonfirmasi satu hari sebelum keberangkatan.

Tarifnya berkisar antara Rp400 ribu sampai Rp500 ribu untuk satu kelotok berkapasitas 20 penumpang. Baru tiga rute wisata susur sungai yang dilayani. Dengan tujuan Pasar Terapung Lokbaintan, Pulau Kembang dan Kuin Kacil.

Memang tak secepat dan semudah Go-Jek. Alasannya, jalan raya dan sungai amat berbeda. Kelotok tidak bisa bermanuver sesuka hati seperti sepeda motor. Pemesanan untuk satu-dua kursi juga mustahil karena berhitung ongkos bahan bakar.

Perbedaan lain, pengguna aplikasi tak langsung terhubung dengan motoris kelotok. Ada perantara seorang admin. Dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Kelebihannya, pengguna bisa mengadu ke admin jika layanan kelotok terbukti jelek. “Penumpang kan segan kalau mengadu langsung pada si paman kelotok,” tukas Junaidi.

Kini, Go-Kelotok dikendalikan Banjarmasin Command Center. Berapa harga aplikasi ini, Junaidi enggan menyebutkan. “Pastinya harga diskon. Ini bukan cuma soal mencari untung. Kami ingin kota ini maju,” tegasnya.

View Team juga bersedia mengawal uji coba aplikasi. Mencatat kekurangan aplikasi dan kendala lapangan sebagai bahan evaluasi. Kendalanya, kebanyakan motoris tak piawai memakai gadget. Aplikasi mesti didesain sesederhana dan semudah mungkin untuk digunakan. Koneksi internet di sungai juga ternyata beda. Kalau pakai paket data yang murah, agak lelet.

Ditanya target ke depan, View ingin menambah sejumlah fitur ke dalam Go-Kelotok. Misal, untuk pembayaran jasa kelotok, cukup nge-scan barcode penumpang.

Termasuk juga memasukkan trip jarak pendek ke dalam menunya. Trip seharga Rp5 ribu untuk menyusuri Sungai Martapura dari Jembatan Pasar Lama ke Jembatan Antasari. “Sebab, trip murah meriah itulah yang paling laku,” sebutnya.

Pekerjaan berat sudah menunggu, View harus meningkatkan daya aplikasi ini. Alih-alih tampak lelah, mereka justru bersemangat. “Kami terharu. Ada motoris kelotok yang baru beli Android tadi malam. Bela-belain demi memakai aplikasi ini,” pungkasnya. (fud)

Go-Kelotok adalah buah karya lima anak muda Banjarmasin. Menyandang nama View, demi kemajuan kota, tim ini rela memberi harga diskon untuk penjualan aplikasi kepada pemko.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

MUHAMMAD Junaidi dan kawan-kawan merupakan anak didik Prof Suhono Harso Supangkat. Guru Besar ITB (Institut Teknologi Bandung) yang dikenal sebagai pencetus Smart City.

Pertemuan bermula dari C-Gen Festival bertajuk City Changemakers. Dihelat pertengahan 2017 lalu di Bandung. Ini ajang kongkow komunitas anak muda yang jatuh cinta pada teknologi informasi.

Di situ, Junaidi dan tim memaparkan sekilas tentang Banjarmasin kepada peserta festival. “Tercetus ide aplikasi Ayo ke Banjarmasin,” ungkap pemuda 26 tahun ini.

Penulis berbincang dengan Junaidi dan dua anggota tim, Muhammad Riza Rahmani, 27 tahun dan Okky Rahmanto, 25 tahun. Dua anggota lain yang tak tampak adalah Muhammad Aldi Perdana dan Muhammad Muzakkir.

Kami bertemu di Rumah Anno 1925, Siring Pierre Tendean, kemarin (28/2) siang. Seusai uji coba Go-Kelotok yang diikuti sebelas buah kelotok di dermaga Menara Pandang.

Lima sekawan ini sudah lama nongkrong bareng karena sama-sama kuliah di Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Junaidi dan Riza dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sedangkan Okky dari Fakultas Matematika dan IPA.

Tim ini diberi nama View. Berasal dari Bahasa Inggris yang artinya melihat, bisa juga diartikan pemandangan. Jendela mereka jadikan sebagai logo. “Filosofinya, dari sebuah jendela kami ingin memandang sesuatu dari sisi berbeda,” imbuhnya.

Go-Kelotok lahir belakangan setelah obrolan dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banjarmasin, Hermansyah. “Bermula dari obrolan biasa. Kemudian berlanjut pada tawaran. Kami pikir kenapa tidak,” ujarnya.

Pembuatan aplikasi tak menghabiskan waktu banyak, hanya dua bulan. Ditekankannya, bagian tersulit dari pekerjaan ini bukan lah pembuatan perangkat lunak. Melainkan pengamatan, wawancara lapangan dan kajian. Yang kemudian menjadi bahan penyusunan konsep. Jika tahap awal ini gagal, dipastikan aplikasi tak terpakai. Lantaran meleset dari kebutuhan pengguna.

“Pesan Prof Suhono, Smart City bukan soal berlomba banyak-banyakan aplikasi. Tapi apakah mengena atau tidak untuk kebutuhan masyarakat? Bisa menaikkan taraf kesejahteraan atau tidak? Itu intinya,” tegas Junaidi.

Meski terdengar mirip, Go-Kelotok sebenarnya memiliki banyak perbedaan dengan Go-Jek. Pemesanan kelotok bersifat carter, tak bisa dadakan. Harus dikonfirmasi satu hari sebelum keberangkatan.

Tarifnya berkisar antara Rp400 ribu sampai Rp500 ribu untuk satu kelotok berkapasitas 20 penumpang. Baru tiga rute wisata susur sungai yang dilayani. Dengan tujuan Pasar Terapung Lokbaintan, Pulau Kembang dan Kuin Kacil.

Memang tak secepat dan semudah Go-Jek. Alasannya, jalan raya dan sungai amat berbeda. Kelotok tidak bisa bermanuver sesuka hati seperti sepeda motor. Pemesanan untuk satu-dua kursi juga mustahil karena berhitung ongkos bahan bakar.

Perbedaan lain, pengguna aplikasi tak langsung terhubung dengan motoris kelotok. Ada perantara seorang admin. Dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Kelebihannya, pengguna bisa mengadu ke admin jika layanan kelotok terbukti jelek. “Penumpang kan segan kalau mengadu langsung pada si paman kelotok,” tukas Junaidi.

Kini, Go-Kelotok dikendalikan Banjarmasin Command Center. Berapa harga aplikasi ini, Junaidi enggan menyebutkan. “Pastinya harga diskon. Ini bukan cuma soal mencari untung. Kami ingin kota ini maju,” tegasnya.

View Team juga bersedia mengawal uji coba aplikasi. Mencatat kekurangan aplikasi dan kendala lapangan sebagai bahan evaluasi. Kendalanya, kebanyakan motoris tak piawai memakai gadget. Aplikasi mesti didesain sesederhana dan semudah mungkin untuk digunakan. Koneksi internet di sungai juga ternyata beda. Kalau pakai paket data yang murah, agak lelet.

Ditanya target ke depan, View ingin menambah sejumlah fitur ke dalam Go-Kelotok. Misal, untuk pembayaran jasa kelotok, cukup nge-scan barcode penumpang.

Termasuk juga memasukkan trip jarak pendek ke dalam menunya. Trip seharga Rp5 ribu untuk menyusuri Sungai Martapura dari Jembatan Pasar Lama ke Jembatan Antasari. “Sebab, trip murah meriah itulah yang paling laku,” sebutnya.

Pekerjaan berat sudah menunggu, View harus meningkatkan daya aplikasi ini. Alih-alih tampak lelah, mereka justru bersemangat. “Kami terharu. Ada motoris kelotok yang baru beli Android tadi malam. Bela-belain demi memakai aplikasi ini,” pungkasnya. (fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/