alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

PSK Paket Hemat di Garuk, Ternyata Ada yang Masih 17 Tahun

BANJARMASIN – Pada siang hari, kawasan Pasar Sudimampir Raya hingga Harum Manis merupakan pusat perdagangan. Menginjak tengah malam, kawasan itu berubah menjadi tempat mangkal PSK (Pekerja Seks Komersial).

Selasa (30/1) dini hari, Satpol PP Banjarmasin menggelar razia besar-besaran. Menyapu Pasar Ujung Murung, Sudimampir Raya, Harum Manis, hingga Pelabuhan Martapura Lama.

Operasi pekat (penyakit masyarakat) berlangsung kilat. Tak sampai satu jam, sejak 00.45 sampai 01.30 Wita, semua titik target disapu habis. Total ada 14 perempuan berpakaian seksi yang diangkut Satpol PP. Mereka diduga sedang menjajakan diri.

Favehotel Banjarmasin

Tentu tak mudah menciduk mereka. Petugas membagi sejumlah regu. Bergerak serentak untuk mengepung dari berbagai sudut pasar. Mengingat kawasan pasar tua itu dipenuhi dengan lorong, gang dan tangga yang gelap.

Ada personil yang bergerak dalam iring-iringan besar dalam mobil patroli dan truk dalmas. Adapula yang bergerak dalam unit-unit kecil dengan sepeda motor trail.

Petugas juga harus berlarian. Keluar masuk pasar dengan hanya membawa senter. Terkadang petugas berhasil mencegat buruannya. Tak jarang nihil. Karena para PSK itu mampu berlari lebih kencang dan lihai untuk bersembunyi.

Mereka sering dijuluki PSK pahe, singkatan dari paket hemat. Karena rata-rata umur perempuan ini tak lagi bisa disebut muda. Penampilannya juga tak kinclong-kinclong amat. Tarif mereka terbilang murah meriah. Cukup menyediakan beberapa puluh ribu rupiah, sudah bisa menyewa servis mereka.

Pemandangan menyedihkan tampak di lantai dua Pasar Bawang, dekat Harum Manis. ML, 17 tahun, dicegat petugas selagi beristirahat di lorong pasar.

Lorong itu lengkap dengan bantal, guling dan kasur. Dilindungi terpal seadanya untuk menahan angin malam.

Perempuan kurus itu berambut pirang. Mukanya putih dan pucat, akibat bedak yang terlampau tebal. Mengenakan kaus oblong warna hitam ketat dan celana jeans robek. Ketika hendak dibawa, bicaranya ngelantur. Petugas menemukan sekaleng lem dari tempat tidurnya.

“Yang, sayang. Panggilkan mama,” kata ML berkali-kali pada seorang lelaki yang masih berusia remaja. Ibunya, SJ, yang tinggal di lorong belakang pasar pun ikut diangkut Satpol PP.

Keterangan ML sesudah diamankan ke Rumah Singgah Dinas Sosial Banjarmasin di Jalan Gubernur Subarjo, terdengar tak konsisten. Pertama, dia mengaku umurnya sudah 18 tahun. Dirinya tampak berupaya menuakan umur sebenarnya.

Kedua, dia menyebut lelaki yang dipanggil mesra itu sebagai kakak kandung. “Itu kakak, bukan siapa-siapa,” ujarnya.

ML juga membantah dengan sengit bahwa dia sedang menjajakan diri di Harum Manis. “Punya usaha warung kopi, tapi tidak dibuka karena sepi pembeli,” imbuhnya.

ML mengaku sudah tinggal di pasar sejak lahir. Meski begitu, dia pernah mengecap bangku sekolah. “Sampai kelas II SMP putus,” ujarnya.

Kejadian menarik juga terjadi di Siring RE Martadinata seberang Balai Kota. Satpol PP mencegat dua perempuan muda sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Mencurigakan. Karena malam sudah larut dan pakaian keduanya cukup minim.

Petugas kemudian menggeledah pakaian, isi tas dan jok motor. Bungkusan plastik kecil yang dikira berisi obat-obatan terlarang, ternyata hanya berisi garam. “Buat ngerujak, pak. Kalau tak percaya boleh colek dan coba,” ujarnya. Mereka kemudian disuruh lekas pulang ke rumah.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Banjarmasin, Hermansyah mengakui efek kejut dari razia besar-besaran ini takkan lama. “Ini penyakit masyarakat yang sulit diobati,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Alasannya, Satpol PP dan Dinsos tak bisa lama-lama menahan mereka untuk pembinaan. Selain kekurangan ruang penampungan di Rumah Singgah, pemko juga menghadapi keterbatasan anggaran. “Makin lama ditahan, makin banyak anggaran yang dikeluarkan. Mereka kan harus dikasih makan dan minum,” jelasnya.

Paling krusial, faktor ekonomi. Sederhananya persoalan perut yang harus diisi. “Saya yakin, PSK ini sadar perbuatan mereka salah. Tapi tak ada pilihan karena berhadapan dengan masalah ekonomi,” imbuh mantan Camat Banjarmasin Selatan tersebut.

Karena itu, Hermansyah meminta masyarakat lah yang menjauhi mereka. Jika bisnis mereka sepi, perlahan akan mati dengan sendiri. “Pakai yang ada di rumah saja. Gak usah jajan keluar. Sudah rugi duit, rentan kena penyakit kelamin. Banyak ruginya,” pungkasnya. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Pada siang hari, kawasan Pasar Sudimampir Raya hingga Harum Manis merupakan pusat perdagangan. Menginjak tengah malam, kawasan itu berubah menjadi tempat mangkal PSK (Pekerja Seks Komersial).

Selasa (30/1) dini hari, Satpol PP Banjarmasin menggelar razia besar-besaran. Menyapu Pasar Ujung Murung, Sudimampir Raya, Harum Manis, hingga Pelabuhan Martapura Lama.

Operasi pekat (penyakit masyarakat) berlangsung kilat. Tak sampai satu jam, sejak 00.45 sampai 01.30 Wita, semua titik target disapu habis. Total ada 14 perempuan berpakaian seksi yang diangkut Satpol PP. Mereka diduga sedang menjajakan diri.

Favehotel Banjarmasin

Tentu tak mudah menciduk mereka. Petugas membagi sejumlah regu. Bergerak serentak untuk mengepung dari berbagai sudut pasar. Mengingat kawasan pasar tua itu dipenuhi dengan lorong, gang dan tangga yang gelap.

Ada personil yang bergerak dalam iring-iringan besar dalam mobil patroli dan truk dalmas. Adapula yang bergerak dalam unit-unit kecil dengan sepeda motor trail.

Petugas juga harus berlarian. Keluar masuk pasar dengan hanya membawa senter. Terkadang petugas berhasil mencegat buruannya. Tak jarang nihil. Karena para PSK itu mampu berlari lebih kencang dan lihai untuk bersembunyi.

Mereka sering dijuluki PSK pahe, singkatan dari paket hemat. Karena rata-rata umur perempuan ini tak lagi bisa disebut muda. Penampilannya juga tak kinclong-kinclong amat. Tarif mereka terbilang murah meriah. Cukup menyediakan beberapa puluh ribu rupiah, sudah bisa menyewa servis mereka.

Pemandangan menyedihkan tampak di lantai dua Pasar Bawang, dekat Harum Manis. ML, 17 tahun, dicegat petugas selagi beristirahat di lorong pasar.

Lorong itu lengkap dengan bantal, guling dan kasur. Dilindungi terpal seadanya untuk menahan angin malam.

Perempuan kurus itu berambut pirang. Mukanya putih dan pucat, akibat bedak yang terlampau tebal. Mengenakan kaus oblong warna hitam ketat dan celana jeans robek. Ketika hendak dibawa, bicaranya ngelantur. Petugas menemukan sekaleng lem dari tempat tidurnya.

“Yang, sayang. Panggilkan mama,” kata ML berkali-kali pada seorang lelaki yang masih berusia remaja. Ibunya, SJ, yang tinggal di lorong belakang pasar pun ikut diangkut Satpol PP.

Keterangan ML sesudah diamankan ke Rumah Singgah Dinas Sosial Banjarmasin di Jalan Gubernur Subarjo, terdengar tak konsisten. Pertama, dia mengaku umurnya sudah 18 tahun. Dirinya tampak berupaya menuakan umur sebenarnya.

Kedua, dia menyebut lelaki yang dipanggil mesra itu sebagai kakak kandung. “Itu kakak, bukan siapa-siapa,” ujarnya.

ML juga membantah dengan sengit bahwa dia sedang menjajakan diri di Harum Manis. “Punya usaha warung kopi, tapi tidak dibuka karena sepi pembeli,” imbuhnya.

ML mengaku sudah tinggal di pasar sejak lahir. Meski begitu, dia pernah mengecap bangku sekolah. “Sampai kelas II SMP putus,” ujarnya.

Kejadian menarik juga terjadi di Siring RE Martadinata seberang Balai Kota. Satpol PP mencegat dua perempuan muda sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Mencurigakan. Karena malam sudah larut dan pakaian keduanya cukup minim.

Petugas kemudian menggeledah pakaian, isi tas dan jok motor. Bungkusan plastik kecil yang dikira berisi obat-obatan terlarang, ternyata hanya berisi garam. “Buat ngerujak, pak. Kalau tak percaya boleh colek dan coba,” ujarnya. Mereka kemudian disuruh lekas pulang ke rumah.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Banjarmasin, Hermansyah mengakui efek kejut dari razia besar-besaran ini takkan lama. “Ini penyakit masyarakat yang sulit diobati,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Alasannya, Satpol PP dan Dinsos tak bisa lama-lama menahan mereka untuk pembinaan. Selain kekurangan ruang penampungan di Rumah Singgah, pemko juga menghadapi keterbatasan anggaran. “Makin lama ditahan, makin banyak anggaran yang dikeluarkan. Mereka kan harus dikasih makan dan minum,” jelasnya.

Paling krusial, faktor ekonomi. Sederhananya persoalan perut yang harus diisi. “Saya yakin, PSK ini sadar perbuatan mereka salah. Tapi tak ada pilihan karena berhadapan dengan masalah ekonomi,” imbuh mantan Camat Banjarmasin Selatan tersebut.

Karena itu, Hermansyah meminta masyarakat lah yang menjauhi mereka. Jika bisnis mereka sepi, perlahan akan mati dengan sendiri. “Pakai yang ada di rumah saja. Gak usah jajan keluar. Sudah rugi duit, rentan kena penyakit kelamin. Banyak ruginya,” pungkasnya. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/