alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

"Gunung Titi Tumpah Darah Kami"

TETANGGA dekat Desa Nateh adalah Desa Manta. Namun, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Desa Pembakulan. Dihuni Suku Dayak, penduduknya  masih menganut Kaharingan. 

Menuju Pembakulan, hanya perlu bersepeda motor selama 20 menit dari Nateh. Masalah­nya, harus menunggu hingga malam hari. Sebab, sejak pagi hingga senja, desa ini sepi. Semua warganya pergi berladang atau berburu.

Kami mengunjungi Yumadi, ketua adat setempat. Rumah­nya persis di ujung desa. Ketika pintunya diketuk, lelaki kelahiran tahun 1957 itu sedang menunggui kompor. Dia tak mengajak makan malam bareng karena paham kami muslim. Dia menghormati kepercayaan soal halal dan haram makanan.

Favehotel Banjarmasin

“Seharian di ladang tak pakai baju, luar biasa panas. Artinya malam ini bakal hujan,” ujarnya sambil menyalami kami. Tebakannya jitu. Beberapa menit kemudian hujan mengguyur deras. Disertai angin kencang yang memukul-mukul atap rumah. Agar suara tetap terde­ngar, kami wawancara dengan setengah berteriak.

Melihat saya mengeluarkan kretek, istri Yumadi pun ikut nimbrung. Namanya Ilamsia, lahir tahun 1961. “Saya kawin tahun 1971,” ujarnya sembari mengepulkan asap tembakau. Artinya, Ilamsia disunting Yumadi pada umur 10 tahun. Mereka dikaruniai tiga anak dan empat cucu.

Yumadi mengaku tak heran saat mendengar Jakarta menerbitkan izin tambang. “Sudah tiga kali berganti bupati, dari Syaiful, Harun sampai Latif, semua mengincar Gunung Titi,” ujarnya.

Yang dimaksud adalah Syaiful Rasyid, Bupati HST periode 2005-2010. Kemudian Harun Nurasid, bupati periode 2010-2015. Terakhir, Abdul Latif yang ditangkap tangan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Januari tadi.

Seingatnya, dia beberapa kali menerima utusan pemkab. Menjajaki kemungkinan menambang Gunung Titi. “Kami tak mela­rang, tapi apa mereka sanggup menanggungnya? Desa-desa di sini hingga Barabai pasti kebanjiran,” kecamnya.

Antara Pembakulan dan Titi dipisahkan hutan lebat. Hutan inilah tempat Yumidi dan war­ganya berburu babi, kancil dan rusa. Tekniknya disebut pukat. Yakni memasang jala di antara dua pohon yang kokoh. Pemburu ditemani anjing berlarian sambil berteriak. Menghalau buruan dengan suara ribut agar kabur mengarah ke perangkap. “Nenek saya Dayak Labuhan. Dalam kepercayaan kami, Gunung Titi milik orang Labuhan. Ini tumpah darah kami,” tegasnya.

Dayak Pembakulan sudah lama mengetahui kekayaan batu harang di Gunung Titi dan hutan di sekitarnya. “Makanya pohon karet di Titi tak pernah mau tumbuh besar. Tanahnya panas. Seisi gunung penuh batu harang,” tukasnya.

Pegunungan Meratus punya banyak bukit terkenal. Sebut saja Kahung dan Halau Halau. Titi jauh kalah populer. Tapi punya sejarah konflik yang panjang. Sebelum diincar penambang, sepuluh tahun lalu, Titi pernah jadi arena bacok-bacokan. Pemicunya sengketa tapal batas antara HST dan Balangan. Kebun karet milik warga dicaplok akibat garis perbatasan yang sumir.

Kembali pada Dayak Pembakulan. Tak hanya merusak lingku­ngan, tambang juga mengancam kebudayaan mereka. Di sana, dalam setahun dua kali digelar Aruh. Menjelang musim tanam padi dan setelah panen. Pesta adat tersebut ungkapan rasa syukur sekaligus harapan.

“Semua Suku Dayak se-Batang Alai diundang, ramai sekali,” tukas Yumidi. Dalam Aruh, tari-tarian tradisional seperti Begintur, Bebangsai, Bekanjar dan Becapung menjadi suguhan wajib.

Bisa Jadi Medan Konflik

Mengantongi izin Yumadi, Rabu (23/1) malam kami menginap di puncak Gunung Titi. Rute terdekat melalui Pembakulan, tapi berat karena harus menerobos hutan. Pemandu saya, Kipli menyarankan rute yang lebih mudah. Meski harus memutar jalan menuju kecamatan tetangga Batang Alai Timur, Limpasu.

Sebelumnya, kami berbalik arah ke Barabai guna mengambil logistik. Menjejali ransel dengan tenda, kantong tidur, kompor, makanan dan air mineral. Kemudian berkendara selama satu jam ke desa terakhir di kaki gunung, Desa Pihandam. Sepeda motor dititipkan di rumah warga.

Pendakian memakan waktu satu jam setengah. Treknya jalan setapak menanjak yang dibuat pemilik perkebunan karet. Bisa saja menaiki sepeda motor. Tapi motor matic Kipli sudah pasti keok. Ketimbang menyewa motor trail, kami memilih berjalan kaki demi menekan ongkos.

Sambil mendaki, kami mengumpulkan ranting kering. Tanpa api unggun, kami bakal menggigil di puncak. Maklum, permukaan puncaknya lapang. Hanya ada hamparan rumput hijau. Tanpa perlindungan pohon, mudah sekali dihantam cuaca buruk.

Kami tiba di puncak jam lima sore. Kipli mendirikan tenda, menyalakan api unggun dan memasak makan malam. Menunya nasi goreng dengan potongan sosis. Sedangkan saya, menyiasati tripod kamera yang terlampau pendek. Kaki-kakinya dipanjangkan dengan ranting pohon yang diikat.

Sepanjang malam, tripod semi darurat ini jadi target bulian. Dalam kesunyian gunung, ada kecende­rungan menjadikan apa saja sebagai bahan lawakan untuk menghibur diri. Menginjak tengah malam, barulah muncul hiburan lain. Dari kejauhan, dua pemburu memberi sinyal dengan cahaya senter.

Dua lelaki itu ternyata warga Desa Pauh dari kaki gunung. Mereka sedang berburu papikau. Papikau burung yang malas terbang. Hobinya berjalan-jalan di tanah. Per ekor dihargai Rp30 ribu. Menurut Kipli, rasanya memang lezat. Mereka tampak murung karena baru memperoleh tiga ekor. Tapi senang karena bisa duduk sejenak dekat api unggun untuk menghangatkan badan.

Lewat tengah malam, kami kembali kedatangan tamu. Tiga pemuda naik ke puncak untuk berkemah. Mereka rupanya mahasiswa STIPER (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian) Amuntai, Hulu Sungai Utara. Mereka memasak mi instan dengan cara yang unik. Bekas kaleng minuman soda disulap menjadi kompor. Sumbunya berupa kertas tisu. “Belajar dari YouTube,” kata Muhammad Fazar, 18 tahun.

Jika sedang suntuk, warga Desa Batu Tangga ini memilih mendaki Titi. Fazar juga sudah membaca berita tentang rencana penambangan. “Kalau gunung ini ditambang, ke mana lagi kami mendaki,” tanyanya retoris.

Sulit sekali untuk tidur. Angin tak henti-hentinya memukul-mukul tenda, ribut. Sebagai anak kota, saya merindukan kasur dan bantal. Jam enam pagi, kami bergegas bangun untuk menyiapkan kamera. Naas, pemandangan matahari terbit sirna karena tertutup awan mendung.

Namun, saya akhirnya mengerti mengapa Kipli bersikeras me­nginap di Titi. Gunung ini memang tak tinggi, tapi posisinya strategis. Di sebelah Timur, tampak pegunungan karst melindu­ngi Pembakulan dan Nateh. Puncak Halau Halau yang dijuluki atap tertinggi Kalsel juga terlihat dari kejauhan. 

Di sebelah Barat, tampak Desa Datar Batung yang menjadi perbatasan antara HST dan Bala­ngan. Hingga permukiman di Desa Batu Tangga, lengkap dengan alur Su­ngai Batang Alai. “Jika beruntung, pas cuaca cerah kita bisa melihat kawah-kawah tambang di Bala­ngan,” jelas Kipli.

Saya juga kini paham makna perkataan tetua Dayak Pembakulan, “Apa mereka sanggup menanggungnya?” Kaki-kaki Gunung Titi dihinggapi pedesaan. Jika gunung ini ditambang, dampaknya bakal tak tertanggungkan.

Menjelang siang, kami memutuskan turun ke Desa Pihandam. Desa tersebut masuk wilayah Limpasu II. Memiliki luas 10,06 kilometer persegi. Jumlah penduduknya 1.885 jiwa per sensus 2016.

Singgah di Pihandam untuk me­nemui Amay, 32 tahun. Dia cucu dari kepala hutan terakhir di Titi. “Andai nenek masih hidup, beliau bisa bercerita lebih banyak,” ujarnya.

Limpasu memang berada di luar Blok Batu Tangga, tapi wajar jika mereka ikut was-was. Masyarakat bergantung pada Sungai Miulang dan Sungai Jabang. Kami sempat mandi di Jabang. Sungai ini masih bersih. Kedua anak su­ngai dari Batang Alai ini mengalir melalui lereng gunung.

“Kami juga takut dengan konflik yang muncul setelah pertambangan masuk,” ujarnya. Amay membeberkan, 75 persen tanah di situ sudah diborong orang luar. Pemiliknya orang-orang kaya dari Banjarmasin, Banjarbaru, Rantau, Kotabaru dan Barabai.

Tambah ngeri karena tumpang tindih kepemilikan lahan. Belum lagi klaim kepemilikan secara adat oleh Suku Dayak. Titi bisa mengundang sengketa, bahkan pertikaian. “Benar kami menolak tambang, tapi jika preman-preman pemilik lahan ini turun, kami bisa apa,” imbuhnya.

Ditanya potensi tambang, Amay tak ragu dengan kekayaan Titi. Rasa-rasanya, setiap jengkal gunung ini sudah dijelajahinya. “Pas lerengnya longsor, kita bisa melihat batu bara berlapis-lapis. Gunung Titi memang kaya,” pungkasnya.

Gubernur Beri Jaminan

Jauh dari Gunung Titi, di Banjarmasin, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor memberi jaminan akan mengikuti aspirasi penolakan tambang. “Jelas, tak ada Amdal tak bisa menambang. Kami ikuti maunya rakyat,” ujarnya kepada awak media.

Dokumen-dokumen yang diperlukan perusahaan tambang juga takkan diterbitkan. “Selama masyarakat menolak, kami tak bisa menerbitkan Amdal,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Ikhlas.

Terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan fungsi vital Meratus untuk daerah aliran sungai. “Kalau Meratus terganggu, bakal bablas,” tegasnya. (fud/at/nur)

TETANGGA dekat Desa Nateh adalah Desa Manta. Namun, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Desa Pembakulan. Dihuni Suku Dayak, penduduknya  masih menganut Kaharingan. 

Menuju Pembakulan, hanya perlu bersepeda motor selama 20 menit dari Nateh. Masalah­nya, harus menunggu hingga malam hari. Sebab, sejak pagi hingga senja, desa ini sepi. Semua warganya pergi berladang atau berburu.

Kami mengunjungi Yumadi, ketua adat setempat. Rumah­nya persis di ujung desa. Ketika pintunya diketuk, lelaki kelahiran tahun 1957 itu sedang menunggui kompor. Dia tak mengajak makan malam bareng karena paham kami muslim. Dia menghormati kepercayaan soal halal dan haram makanan.

Favehotel Banjarmasin

“Seharian di ladang tak pakai baju, luar biasa panas. Artinya malam ini bakal hujan,” ujarnya sambil menyalami kami. Tebakannya jitu. Beberapa menit kemudian hujan mengguyur deras. Disertai angin kencang yang memukul-mukul atap rumah. Agar suara tetap terde­ngar, kami wawancara dengan setengah berteriak.

Melihat saya mengeluarkan kretek, istri Yumadi pun ikut nimbrung. Namanya Ilamsia, lahir tahun 1961. “Saya kawin tahun 1971,” ujarnya sembari mengepulkan asap tembakau. Artinya, Ilamsia disunting Yumadi pada umur 10 tahun. Mereka dikaruniai tiga anak dan empat cucu.

Yumadi mengaku tak heran saat mendengar Jakarta menerbitkan izin tambang. “Sudah tiga kali berganti bupati, dari Syaiful, Harun sampai Latif, semua mengincar Gunung Titi,” ujarnya.

Yang dimaksud adalah Syaiful Rasyid, Bupati HST periode 2005-2010. Kemudian Harun Nurasid, bupati periode 2010-2015. Terakhir, Abdul Latif yang ditangkap tangan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Januari tadi.

Seingatnya, dia beberapa kali menerima utusan pemkab. Menjajaki kemungkinan menambang Gunung Titi. “Kami tak mela­rang, tapi apa mereka sanggup menanggungnya? Desa-desa di sini hingga Barabai pasti kebanjiran,” kecamnya.

Antara Pembakulan dan Titi dipisahkan hutan lebat. Hutan inilah tempat Yumidi dan war­ganya berburu babi, kancil dan rusa. Tekniknya disebut pukat. Yakni memasang jala di antara dua pohon yang kokoh. Pemburu ditemani anjing berlarian sambil berteriak. Menghalau buruan dengan suara ribut agar kabur mengarah ke perangkap. “Nenek saya Dayak Labuhan. Dalam kepercayaan kami, Gunung Titi milik orang Labuhan. Ini tumpah darah kami,” tegasnya.

Dayak Pembakulan sudah lama mengetahui kekayaan batu harang di Gunung Titi dan hutan di sekitarnya. “Makanya pohon karet di Titi tak pernah mau tumbuh besar. Tanahnya panas. Seisi gunung penuh batu harang,” tukasnya.

Pegunungan Meratus punya banyak bukit terkenal. Sebut saja Kahung dan Halau Halau. Titi jauh kalah populer. Tapi punya sejarah konflik yang panjang. Sebelum diincar penambang, sepuluh tahun lalu, Titi pernah jadi arena bacok-bacokan. Pemicunya sengketa tapal batas antara HST dan Balangan. Kebun karet milik warga dicaplok akibat garis perbatasan yang sumir.

Kembali pada Dayak Pembakulan. Tak hanya merusak lingku­ngan, tambang juga mengancam kebudayaan mereka. Di sana, dalam setahun dua kali digelar Aruh. Menjelang musim tanam padi dan setelah panen. Pesta adat tersebut ungkapan rasa syukur sekaligus harapan.

“Semua Suku Dayak se-Batang Alai diundang, ramai sekali,” tukas Yumidi. Dalam Aruh, tari-tarian tradisional seperti Begintur, Bebangsai, Bekanjar dan Becapung menjadi suguhan wajib.

Bisa Jadi Medan Konflik

Mengantongi izin Yumadi, Rabu (23/1) malam kami menginap di puncak Gunung Titi. Rute terdekat melalui Pembakulan, tapi berat karena harus menerobos hutan. Pemandu saya, Kipli menyarankan rute yang lebih mudah. Meski harus memutar jalan menuju kecamatan tetangga Batang Alai Timur, Limpasu.

Sebelumnya, kami berbalik arah ke Barabai guna mengambil logistik. Menjejali ransel dengan tenda, kantong tidur, kompor, makanan dan air mineral. Kemudian berkendara selama satu jam ke desa terakhir di kaki gunung, Desa Pihandam. Sepeda motor dititipkan di rumah warga.

Pendakian memakan waktu satu jam setengah. Treknya jalan setapak menanjak yang dibuat pemilik perkebunan karet. Bisa saja menaiki sepeda motor. Tapi motor matic Kipli sudah pasti keok. Ketimbang menyewa motor trail, kami memilih berjalan kaki demi menekan ongkos.

Sambil mendaki, kami mengumpulkan ranting kering. Tanpa api unggun, kami bakal menggigil di puncak. Maklum, permukaan puncaknya lapang. Hanya ada hamparan rumput hijau. Tanpa perlindungan pohon, mudah sekali dihantam cuaca buruk.

Kami tiba di puncak jam lima sore. Kipli mendirikan tenda, menyalakan api unggun dan memasak makan malam. Menunya nasi goreng dengan potongan sosis. Sedangkan saya, menyiasati tripod kamera yang terlampau pendek. Kaki-kakinya dipanjangkan dengan ranting pohon yang diikat.

Sepanjang malam, tripod semi darurat ini jadi target bulian. Dalam kesunyian gunung, ada kecende­rungan menjadikan apa saja sebagai bahan lawakan untuk menghibur diri. Menginjak tengah malam, barulah muncul hiburan lain. Dari kejauhan, dua pemburu memberi sinyal dengan cahaya senter.

Dua lelaki itu ternyata warga Desa Pauh dari kaki gunung. Mereka sedang berburu papikau. Papikau burung yang malas terbang. Hobinya berjalan-jalan di tanah. Per ekor dihargai Rp30 ribu. Menurut Kipli, rasanya memang lezat. Mereka tampak murung karena baru memperoleh tiga ekor. Tapi senang karena bisa duduk sejenak dekat api unggun untuk menghangatkan badan.

Lewat tengah malam, kami kembali kedatangan tamu. Tiga pemuda naik ke puncak untuk berkemah. Mereka rupanya mahasiswa STIPER (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian) Amuntai, Hulu Sungai Utara. Mereka memasak mi instan dengan cara yang unik. Bekas kaleng minuman soda disulap menjadi kompor. Sumbunya berupa kertas tisu. “Belajar dari YouTube,” kata Muhammad Fazar, 18 tahun.

Jika sedang suntuk, warga Desa Batu Tangga ini memilih mendaki Titi. Fazar juga sudah membaca berita tentang rencana penambangan. “Kalau gunung ini ditambang, ke mana lagi kami mendaki,” tanyanya retoris.

Sulit sekali untuk tidur. Angin tak henti-hentinya memukul-mukul tenda, ribut. Sebagai anak kota, saya merindukan kasur dan bantal. Jam enam pagi, kami bergegas bangun untuk menyiapkan kamera. Naas, pemandangan matahari terbit sirna karena tertutup awan mendung.

Namun, saya akhirnya mengerti mengapa Kipli bersikeras me­nginap di Titi. Gunung ini memang tak tinggi, tapi posisinya strategis. Di sebelah Timur, tampak pegunungan karst melindu­ngi Pembakulan dan Nateh. Puncak Halau Halau yang dijuluki atap tertinggi Kalsel juga terlihat dari kejauhan. 

Di sebelah Barat, tampak Desa Datar Batung yang menjadi perbatasan antara HST dan Bala­ngan. Hingga permukiman di Desa Batu Tangga, lengkap dengan alur Su­ngai Batang Alai. “Jika beruntung, pas cuaca cerah kita bisa melihat kawah-kawah tambang di Bala­ngan,” jelas Kipli.

Saya juga kini paham makna perkataan tetua Dayak Pembakulan, “Apa mereka sanggup menanggungnya?” Kaki-kaki Gunung Titi dihinggapi pedesaan. Jika gunung ini ditambang, dampaknya bakal tak tertanggungkan.

Menjelang siang, kami memutuskan turun ke Desa Pihandam. Desa tersebut masuk wilayah Limpasu II. Memiliki luas 10,06 kilometer persegi. Jumlah penduduknya 1.885 jiwa per sensus 2016.

Singgah di Pihandam untuk me­nemui Amay, 32 tahun. Dia cucu dari kepala hutan terakhir di Titi. “Andai nenek masih hidup, beliau bisa bercerita lebih banyak,” ujarnya.

Limpasu memang berada di luar Blok Batu Tangga, tapi wajar jika mereka ikut was-was. Masyarakat bergantung pada Sungai Miulang dan Sungai Jabang. Kami sempat mandi di Jabang. Sungai ini masih bersih. Kedua anak su­ngai dari Batang Alai ini mengalir melalui lereng gunung.

“Kami juga takut dengan konflik yang muncul setelah pertambangan masuk,” ujarnya. Amay membeberkan, 75 persen tanah di situ sudah diborong orang luar. Pemiliknya orang-orang kaya dari Banjarmasin, Banjarbaru, Rantau, Kotabaru dan Barabai.

Tambah ngeri karena tumpang tindih kepemilikan lahan. Belum lagi klaim kepemilikan secara adat oleh Suku Dayak. Titi bisa mengundang sengketa, bahkan pertikaian. “Benar kami menolak tambang, tapi jika preman-preman pemilik lahan ini turun, kami bisa apa,” imbuhnya.

Ditanya potensi tambang, Amay tak ragu dengan kekayaan Titi. Rasa-rasanya, setiap jengkal gunung ini sudah dijelajahinya. “Pas lerengnya longsor, kita bisa melihat batu bara berlapis-lapis. Gunung Titi memang kaya,” pungkasnya.

Gubernur Beri Jaminan

Jauh dari Gunung Titi, di Banjarmasin, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor memberi jaminan akan mengikuti aspirasi penolakan tambang. “Jelas, tak ada Amdal tak bisa menambang. Kami ikuti maunya rakyat,” ujarnya kepada awak media.

Dokumen-dokumen yang diperlukan perusahaan tambang juga takkan diterbitkan. “Selama masyarakat menolak, kami tak bisa menerbitkan Amdal,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Ikhlas.

Terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan fungsi vital Meratus untuk daerah aliran sungai. “Kalau Meratus terganggu, bakal bablas,” tegasnya. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/