alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Ahmad Sya'rani, Seniman Madihin yang Syairnya Sambil Berdakwah

Besar dilingkungan seniman madihin, membuat jiwa seni Ahmad Sya’rani berkembang. Dia mahir dalam bersyair. Berikut bincang-bincang Radar Banjarmasin dengan pemadihin asal Banjarmasin tersebut.

ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin.

Dia lahir di Banjarmasin.  Tepatnya, 22 Januari 1977. Baru merayakan ulang tahun yang ke-41, Senin (22/1) tadi.

Favehotel Banjarmasin

Saat ditemui di tempat kerjanya, kemarin (24/1) pagi, Ahmad Sya’rani terlihat sibuk. Dia menjabat sebagai Kasubsi Bimas Islam di Kementerian Agama Banjarmasin.

Karena sudah bikin janji, Ahmad mempersilahkan saya masuk ke ruangannya. Berukuran 3×3 meter persegi.

Dia terlihat masih menandatangani sejumlah berkas di atas mejanya. Saya tak tahu persis apa itu.

Tak terlalu lama, dia akhirnya selesai dengan kesibukannya. Kami pun langsung memulai perbincangan.

Bicara Ahmad santai. Dia juga ramah. Obrolan kami pun mengalir. Dibuka dengan panggilan masa kecilnya, Isa. Kalau nama tenarnya, Anang Syahrani.

Ahmad lantas bercerita banyak soal dunia seni yang kini dilakoninya. Ya, madihin. Ternyata dia sudah mempelajarinya sejak kecil. Dari sang ayah.

“Karena dulu sering mendengar bapak melantunkan syair. Saya senang mendengar. Dan akhirnya bisa sendiri,” ungkap.  Dulu ayahnya sering melantunkan syair-syair yang berisi petuah.

Madihin berasal dari kata madah. Bermakna puji-pujian, nasehat dan pesan moral. Meski terkadang ditampilkan dengan balutan humor, namun tetap sarat dengan petuah. Orang yang memainkannya harus pandai bertutur dan berpantun.

Sebenarnya tak cukup hanya itu. Pemadihin juga harus pandai memainkan gendang. Karena dimainkan sekaligus saat bertutur.

Ahmad mulai terjun sebagai pemadihin sejak tahun 1992. Kala itu dia masih berstatus sebagai pelajar di Madrasah Tsanawiyah Sultan Suriansyah.

Dia pertama kali tampil dalam acara perpisahan di sekolahnya sendiri. “Waktu itu karena minin kegiatan. Ada teman yang tahu saya bisa madihin, akhirnya saya diminta untuk mengisi acara,” cerita suami Mahmudah Herlina itu.

Awalnya Ahmad tak begitu pede. Maklum itu adalah penampilan perdananya yang ditonton orang banyak. “Saya coba tampilkan madihin. Dan ternyata penampilan itu mendapat apresiasi dari kawan-kawan dan guru-guru,” tuturnya senang.

 

Sejak itu dia mulai mengikuti berbagai festival. Entah tingkat kota, maupun provinsi. Kebetulan kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh. Beberapa kali dirinya meraih gelar juara.

Sebut saja, juara III MTQ Tingkat SD 1989, juara III Tartitl Quran MTQ tingkat Kecamatan 1989, juara I madihin tingkat Mahasiswa se-Kalsel 1996 serta juara II Madihin HUT Ke 55 Taman Budaya 2000. Dia juga pernah diundang Menteri Agama saat Hari Amal Bakti Depag tahun 2008.

Seiring berjalannya waktu, Ahmad mulai sering diundang dalam berbagai acara. Termasuk ke TVRI Jakarta pada tahun 1999.

Dia juga sempat dikontrak salah satu televisi swasta lokal untuk program budaya. Menampilkan seni madihin sekitar dua tahun.

Sekarang Isa sudah jarang tampil di televisi. Dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor.

Meski begitu, bukan berarti aktivitas bermadihinnya terhenti. Dia tetap konsisten untuk tampil.  Biasanya memenuhi undangan.

Baginya madihin merupakan warisan yang harus dilestarikan. “Di lingkungan keluarga kalau lagi ada waktu luang saya sering memainkan madihin dihadapan anak-anak. Biar mereka tahu seni madihin dari Banjar,” ujarnya. Anaknya ada tiga. Yakni, Aghnia Salsabila, M Maftuh Atho Mudzhar serta Alvina Mumtaza Asy-Sya’ira.

Ahmad melihat potensi madihin di Kalsel masih sangat besar. Banyak remaja berbakat. Hanya saja pengin instan. Dia sudah sering membuka peluang bagi remaja yang ingin belajar.

Menurutnya, madihin juga harus ditunjang dengan wawasan luas. Konten yang disampaikan dikemas dengan apik tanpa menghilangkan pesan moral. Tapi tetap kocak.

Madihin punya pakem. Pertama pembukaan (salam), pemecah bunga atau yang diisi dengan materi pantun dan terakhir penutup. “Karena kuliah dulu di IAIN, saya gabungkan madihin dengan dakwah. Cara ini juga agar pendengar yang mendengar tidak bosan,” pangkas anak pasangan Abdul Murid dan Maspudah itu. (at/nur)

Besar dilingkungan seniman madihin, membuat jiwa seni Ahmad Sya’rani berkembang. Dia mahir dalam bersyair. Berikut bincang-bincang Radar Banjarmasin dengan pemadihin asal Banjarmasin tersebut.

ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin.

Dia lahir di Banjarmasin.  Tepatnya, 22 Januari 1977. Baru merayakan ulang tahun yang ke-41, Senin (22/1) tadi.

Favehotel Banjarmasin

Saat ditemui di tempat kerjanya, kemarin (24/1) pagi, Ahmad Sya’rani terlihat sibuk. Dia menjabat sebagai Kasubsi Bimas Islam di Kementerian Agama Banjarmasin.

Karena sudah bikin janji, Ahmad mempersilahkan saya masuk ke ruangannya. Berukuran 3×3 meter persegi.

Dia terlihat masih menandatangani sejumlah berkas di atas mejanya. Saya tak tahu persis apa itu.

Tak terlalu lama, dia akhirnya selesai dengan kesibukannya. Kami pun langsung memulai perbincangan.

Bicara Ahmad santai. Dia juga ramah. Obrolan kami pun mengalir. Dibuka dengan panggilan masa kecilnya, Isa. Kalau nama tenarnya, Anang Syahrani.

Ahmad lantas bercerita banyak soal dunia seni yang kini dilakoninya. Ya, madihin. Ternyata dia sudah mempelajarinya sejak kecil. Dari sang ayah.

“Karena dulu sering mendengar bapak melantunkan syair. Saya senang mendengar. Dan akhirnya bisa sendiri,” ungkap.  Dulu ayahnya sering melantunkan syair-syair yang berisi petuah.

Madihin berasal dari kata madah. Bermakna puji-pujian, nasehat dan pesan moral. Meski terkadang ditampilkan dengan balutan humor, namun tetap sarat dengan petuah. Orang yang memainkannya harus pandai bertutur dan berpantun.

Sebenarnya tak cukup hanya itu. Pemadihin juga harus pandai memainkan gendang. Karena dimainkan sekaligus saat bertutur.

Ahmad mulai terjun sebagai pemadihin sejak tahun 1992. Kala itu dia masih berstatus sebagai pelajar di Madrasah Tsanawiyah Sultan Suriansyah.

Dia pertama kali tampil dalam acara perpisahan di sekolahnya sendiri. “Waktu itu karena minin kegiatan. Ada teman yang tahu saya bisa madihin, akhirnya saya diminta untuk mengisi acara,” cerita suami Mahmudah Herlina itu.

Awalnya Ahmad tak begitu pede. Maklum itu adalah penampilan perdananya yang ditonton orang banyak. “Saya coba tampilkan madihin. Dan ternyata penampilan itu mendapat apresiasi dari kawan-kawan dan guru-guru,” tuturnya senang.

 

Sejak itu dia mulai mengikuti berbagai festival. Entah tingkat kota, maupun provinsi. Kebetulan kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh. Beberapa kali dirinya meraih gelar juara.

Sebut saja, juara III MTQ Tingkat SD 1989, juara III Tartitl Quran MTQ tingkat Kecamatan 1989, juara I madihin tingkat Mahasiswa se-Kalsel 1996 serta juara II Madihin HUT Ke 55 Taman Budaya 2000. Dia juga pernah diundang Menteri Agama saat Hari Amal Bakti Depag tahun 2008.

Seiring berjalannya waktu, Ahmad mulai sering diundang dalam berbagai acara. Termasuk ke TVRI Jakarta pada tahun 1999.

Dia juga sempat dikontrak salah satu televisi swasta lokal untuk program budaya. Menampilkan seni madihin sekitar dua tahun.

Sekarang Isa sudah jarang tampil di televisi. Dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor.

Meski begitu, bukan berarti aktivitas bermadihinnya terhenti. Dia tetap konsisten untuk tampil.  Biasanya memenuhi undangan.

Baginya madihin merupakan warisan yang harus dilestarikan. “Di lingkungan keluarga kalau lagi ada waktu luang saya sering memainkan madihin dihadapan anak-anak. Biar mereka tahu seni madihin dari Banjar,” ujarnya. Anaknya ada tiga. Yakni, Aghnia Salsabila, M Maftuh Atho Mudzhar serta Alvina Mumtaza Asy-Sya’ira.

Ahmad melihat potensi madihin di Kalsel masih sangat besar. Banyak remaja berbakat. Hanya saja pengin instan. Dia sudah sering membuka peluang bagi remaja yang ingin belajar.

Menurutnya, madihin juga harus ditunjang dengan wawasan luas. Konten yang disampaikan dikemas dengan apik tanpa menghilangkan pesan moral. Tapi tetap kocak.

Madihin punya pakem. Pertama pembukaan (salam), pemecah bunga atau yang diisi dengan materi pantun dan terakhir penutup. “Karena kuliah dulu di IAIN, saya gabungkan madihin dengan dakwah. Cara ini juga agar pendengar yang mendengar tidak bosan,” pangkas anak pasangan Abdul Murid dan Maspudah itu. (at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/