alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Muslih Minta Ditahan di Banjarbaru

BANJARMASIN – Suara Muslih terbata-bata. Dia bahkan meneteskan air mata ketika membacakan nota pembelaan pada sidang lanjutan kasus suap Perda Penyertaan Modal Pemko Banjarmasin kepada PDAM Bandarmasih di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, Selasa (16/1) siang.

Mantan Direktur Utama PDAM Bandarmasih itu dalam nota pembelaannya mengaku, perbuatannya melakukan suap didasari paksaan dari dua tersangka lain, Iwan Rusmali dan Andi Effendi. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Sihar Simanongan Purba, Muslih mengungkapkan dirinya terus menerus ditelepon keduanya agar menyiapkan dana untuk memuluskan perda tersebut.

Dia sendiri mengaku sempat tak mengangkat telepon Iwan dan Andi. Bahkan, sang istri mempertanyakan kenapa tak mengangkat panggilan telepon dari mereka. Dia tahu, pasti Iwan dan Andi akan menghubungi lagi bahkan akan datang ke rumah.

Favehotel Banjarmasin

Ternyata memang benar. Keduanya datang ke rumah Muslih seperti yang terungkap pada fakta persidangan lalu. “Kejadian semua ini atas paksaan Iwan Rusmali dan Andi Effendi. Saya tak ada niat sedikit pun untuk memberi suap agar Raperda pernyataan modal berjalan lancar,” tutur Muslih terbata.

Secara sadar Muslih mengakui perbuatan suapnya tersebut didasari keadaan PDAM Bandarmasih yang masih perlu pembenahan. “Saya akui saya khilaf setelah ada paksaan itu. Padahal niat saya melakukan pembenahan air bersih di Kota Banjarmasin,” ucapnya.

Pada sidang tuntutan sebelumnya, Muslih dituntut pidana selama 2 tahun penjara dikurangi masa tahanan, dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Melalui nota pembelaannya kemarin, dirinya memohon dengan besar hati hakim meringankan hukumannya.

Jelang akhir pledoi, Muslih sempat membuat pengunjung sidang terdiam. Dia membacakan pesan khusus kepada majelis hakim, bahwa uang pesangon dan sisa gaji dirinya sebelum pengunduran diri pada 9 November 2017 lalu yang nilainya jika di total hampir Rp1 miliar, dinafkahkan untuk fakir miskin dan PDAM.

Dengan berat hati pula Muslih menyampaikan permintaan maafnya kepada keluaga Trensis yang turut terseret di kasus ini. Dituturkannya sebagai anak buah, Trensis hanya menjalankan perintah dari atasan. “Saya sangat menyesal. Saya minta maaf kepada keluarga Trensis,” ucapnya.

Muslih juga memohon agar dirinya tetap ditahan di Banjarbaru, bukan di Lapas Sukamiskin, Jawa Barat yang selama ini menjadi tempat tahanan KPK. “Pekerjaan saya dan keluarga tak ada lagi. Saya memohon kepada KPK agar tetap ditahan di Lapas Banjarbaru supaya tetap dekat dengan keluarga,” tandasnya.

Sementara, Trensis dalam pembelaannya menuturkan, perbuatan dirinya atas perintah Muslih sebagai atasan. “Saya memohon kepada ketua majelis hakim untuk meringankan tuntutan hukuman saya,” tutur Trensis. Mantan manajer keuangan PDAM Bandarmasih ini dituntut penjara 1 tahun 6 bulan dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Sidang lanjutan dengan agenda putusan hakim dijadwalkan akan dihelat 30 Januari mendatang.
Sekadar mengingatkan, Muslih dan Trensis ditangkap KPK pada 14 Oktober 2017 silam. Mereka terjerat dalam kasus suap Raperda Penyertaan modal untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih.
KPK juga menangkap Ketua DPRD Iwan Rusmali dan Ketua Pansus Andi Effendi. (mof/ay/ran)

BANJARMASIN – Suara Muslih terbata-bata. Dia bahkan meneteskan air mata ketika membacakan nota pembelaan pada sidang lanjutan kasus suap Perda Penyertaan Modal Pemko Banjarmasin kepada PDAM Bandarmasih di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, Selasa (16/1) siang.

Mantan Direktur Utama PDAM Bandarmasih itu dalam nota pembelaannya mengaku, perbuatannya melakukan suap didasari paksaan dari dua tersangka lain, Iwan Rusmali dan Andi Effendi. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Sihar Simanongan Purba, Muslih mengungkapkan dirinya terus menerus ditelepon keduanya agar menyiapkan dana untuk memuluskan perda tersebut.

Dia sendiri mengaku sempat tak mengangkat telepon Iwan dan Andi. Bahkan, sang istri mempertanyakan kenapa tak mengangkat panggilan telepon dari mereka. Dia tahu, pasti Iwan dan Andi akan menghubungi lagi bahkan akan datang ke rumah.

Favehotel Banjarmasin

Ternyata memang benar. Keduanya datang ke rumah Muslih seperti yang terungkap pada fakta persidangan lalu. “Kejadian semua ini atas paksaan Iwan Rusmali dan Andi Effendi. Saya tak ada niat sedikit pun untuk memberi suap agar Raperda pernyataan modal berjalan lancar,” tutur Muslih terbata.

Secara sadar Muslih mengakui perbuatan suapnya tersebut didasari keadaan PDAM Bandarmasih yang masih perlu pembenahan. “Saya akui saya khilaf setelah ada paksaan itu. Padahal niat saya melakukan pembenahan air bersih di Kota Banjarmasin,” ucapnya.

Pada sidang tuntutan sebelumnya, Muslih dituntut pidana selama 2 tahun penjara dikurangi masa tahanan, dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Melalui nota pembelaannya kemarin, dirinya memohon dengan besar hati hakim meringankan hukumannya.

Jelang akhir pledoi, Muslih sempat membuat pengunjung sidang terdiam. Dia membacakan pesan khusus kepada majelis hakim, bahwa uang pesangon dan sisa gaji dirinya sebelum pengunduran diri pada 9 November 2017 lalu yang nilainya jika di total hampir Rp1 miliar, dinafkahkan untuk fakir miskin dan PDAM.

Dengan berat hati pula Muslih menyampaikan permintaan maafnya kepada keluaga Trensis yang turut terseret di kasus ini. Dituturkannya sebagai anak buah, Trensis hanya menjalankan perintah dari atasan. “Saya sangat menyesal. Saya minta maaf kepada keluarga Trensis,” ucapnya.

Muslih juga memohon agar dirinya tetap ditahan di Banjarbaru, bukan di Lapas Sukamiskin, Jawa Barat yang selama ini menjadi tempat tahanan KPK. “Pekerjaan saya dan keluarga tak ada lagi. Saya memohon kepada KPK agar tetap ditahan di Lapas Banjarbaru supaya tetap dekat dengan keluarga,” tandasnya.

Sementara, Trensis dalam pembelaannya menuturkan, perbuatan dirinya atas perintah Muslih sebagai atasan. “Saya memohon kepada ketua majelis hakim untuk meringankan tuntutan hukuman saya,” tutur Trensis. Mantan manajer keuangan PDAM Bandarmasih ini dituntut penjara 1 tahun 6 bulan dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Sidang lanjutan dengan agenda putusan hakim dijadwalkan akan dihelat 30 Januari mendatang.
Sekadar mengingatkan, Muslih dan Trensis ditangkap KPK pada 14 Oktober 2017 silam. Mereka terjerat dalam kasus suap Raperda Penyertaan modal untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih.
KPK juga menangkap Ketua DPRD Iwan Rusmali dan Ketua Pansus Andi Effendi. (mof/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/