alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Dua Tahun, Penataan Kampung Ketupat Baru Sebatas Lampu

BANJARMASIN – Dua tahun silam, pemukiman di bantaran Sungai Baru digusur. Mengandalkan nama Kampung Ketupat, kawasan itu digadang-gadang bakal jadi tujuan wisata baru. Masalahnya, proyek itu berjalan lamban.

Tahun 2015, usai bangunan warga diratakan siring sepanjang 140 meter dibangun. Dilanjutkan 200 meter pada 2016. 2017? Siring yang masih berupa konstruksi kasar itu hanya bertambah lampu penerangan. Tak lebih.

Kontras dengan penataan di Siring Pierre Tendean, tetangga Sungai Baru. Kebetulan keduanya cuma dipisahkan Jembatan Dewi. “Kami iri dengan penataan kawasan Menara Pandang dan Patung Bekantan,” kata Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Sungai Baru, Mizan Kubra, kemarin (2/1).

Favehotel Banjarmasin

Kampung di tepi Sungai Martapura itu sejak dulu tersohor sebagai Kampung Ketupat. Sebagian besar warganya merupakan perajin ketupat. Untuk Soto Banjar, Ketupat Kandangan atau Lontong Sayur. Khasnya itulah yang ingin dijual sebagai daya tarik wisata.

“Tapi sampai sekarang, baru pemasangan lampu dan penanaman pohon,” imbuhnya. Kubra juga pedagang ketupat. Namanya diplesetkan warga sekitar menjadi ‘Kobra’. Julukan itu akhirnya menjadi merek dagang warung ketupatnya.

Kobra menyebut, untuk Kelurahan Sungai Baru saja ada 15 pedagang besar ketupat. Belum termasuk pengecer kecil dan sesama perajin dari kelurahan tetangga di Pekapuran Laut. “Jelang Idul Fitri dan Adha, pedagang musiman ketupat di sini bisa bertambah sampai 100 orang,” sebut Ketua RW 01 Sungai Baru itu.

Siring ini masih kasar. Berupa cor beton biasa. Halamannya ditumbuhi rumput liar tinggi. Belum ada pelantaian, pengecatan, pemagaran atau pemadatan halaman siring. “Yang kami khawatirkan pagar. Berbahaya buat anak-anak bermain, bisa tercebur,” ujarnya.

Selain menanyakan kapan penataan Kampung Ketupat dimulai, warga juga menyoal rumah lanting. Di sana dulu ada 18 rumah lanting khas Banjar. Berbeda dengan yang bermukim di bantaran, nasib penghuni rumah lanting lebih tak beruntung. Karena tak ada uang ganti rugi. Alasannya, pembebasan lahan tidak mengatur bangunan mengapung di atas sungai.

Kobra kebetulan salah seorang tokoh masyarakat yang memperjuangkan keberadaan rumah lanting. Hingga pemko menjanjikan bakal ada gantinya, berupa rumah lanting wisata. Dimana turis bisa membayar sewa inap untuk merasakan sensasi kehidupan di atas sungai ala Banjar. “Nah, kapan janji itu dilunasi?” tukas Kobra.

Soal lain, siring ini sebenarnya belum benar-benar rampung. Terputus tepat sebelum Jembatan Antasari. “Terhalang bangunan Mitra Plaza. Apakah pemko cuma berani menggusur rumah warga,” tantangnya.

Ditanya harapan, Kobra membayangkan Siring Sungai Baru bakal ditata seperti Siring Pierre Tendean. Lapak-lapak pedagang ketupat berderet rapi di halaman siring. Plus gerbang ucapan selamat datang pada wisatawan. “Kalau perlu dibikinkan seperti Tugu Kelabau itu, tapi bentuknya ketupat,” ujarnya tergelak. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Dua tahun silam, pemukiman di bantaran Sungai Baru digusur. Mengandalkan nama Kampung Ketupat, kawasan itu digadang-gadang bakal jadi tujuan wisata baru. Masalahnya, proyek itu berjalan lamban.

Tahun 2015, usai bangunan warga diratakan siring sepanjang 140 meter dibangun. Dilanjutkan 200 meter pada 2016. 2017? Siring yang masih berupa konstruksi kasar itu hanya bertambah lampu penerangan. Tak lebih.

Kontras dengan penataan di Siring Pierre Tendean, tetangga Sungai Baru. Kebetulan keduanya cuma dipisahkan Jembatan Dewi. “Kami iri dengan penataan kawasan Menara Pandang dan Patung Bekantan,” kata Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Sungai Baru, Mizan Kubra, kemarin (2/1).

Favehotel Banjarmasin

Kampung di tepi Sungai Martapura itu sejak dulu tersohor sebagai Kampung Ketupat. Sebagian besar warganya merupakan perajin ketupat. Untuk Soto Banjar, Ketupat Kandangan atau Lontong Sayur. Khasnya itulah yang ingin dijual sebagai daya tarik wisata.

“Tapi sampai sekarang, baru pemasangan lampu dan penanaman pohon,” imbuhnya. Kubra juga pedagang ketupat. Namanya diplesetkan warga sekitar menjadi ‘Kobra’. Julukan itu akhirnya menjadi merek dagang warung ketupatnya.

Kobra menyebut, untuk Kelurahan Sungai Baru saja ada 15 pedagang besar ketupat. Belum termasuk pengecer kecil dan sesama perajin dari kelurahan tetangga di Pekapuran Laut. “Jelang Idul Fitri dan Adha, pedagang musiman ketupat di sini bisa bertambah sampai 100 orang,” sebut Ketua RW 01 Sungai Baru itu.

Siring ini masih kasar. Berupa cor beton biasa. Halamannya ditumbuhi rumput liar tinggi. Belum ada pelantaian, pengecatan, pemagaran atau pemadatan halaman siring. “Yang kami khawatirkan pagar. Berbahaya buat anak-anak bermain, bisa tercebur,” ujarnya.

Selain menanyakan kapan penataan Kampung Ketupat dimulai, warga juga menyoal rumah lanting. Di sana dulu ada 18 rumah lanting khas Banjar. Berbeda dengan yang bermukim di bantaran, nasib penghuni rumah lanting lebih tak beruntung. Karena tak ada uang ganti rugi. Alasannya, pembebasan lahan tidak mengatur bangunan mengapung di atas sungai.

Kobra kebetulan salah seorang tokoh masyarakat yang memperjuangkan keberadaan rumah lanting. Hingga pemko menjanjikan bakal ada gantinya, berupa rumah lanting wisata. Dimana turis bisa membayar sewa inap untuk merasakan sensasi kehidupan di atas sungai ala Banjar. “Nah, kapan janji itu dilunasi?” tukas Kobra.

Soal lain, siring ini sebenarnya belum benar-benar rampung. Terputus tepat sebelum Jembatan Antasari. “Terhalang bangunan Mitra Plaza. Apakah pemko cuma berani menggusur rumah warga,” tantangnya.

Ditanya harapan, Kobra membayangkan Siring Sungai Baru bakal ditata seperti Siring Pierre Tendean. Lapak-lapak pedagang ketupat berderet rapi di halaman siring. Plus gerbang ucapan selamat datang pada wisatawan. “Kalau perlu dibikinkan seperti Tugu Kelabau itu, tapi bentuknya ketupat,” ujarnya tergelak. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/