alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Pengamat: Citra Plaza Jangan Sampai Mubazir

BANJARBARU – Kawasan Terpadu Citra Plaza terbengkalai bertahun-tahun. Namun, Pemprov Kalsel baru saja menyewakan asetnya itu pada PT Didika Banua Jasa.

Pada tahun 2018, aset dengan luas 1,5 hektare ini bakal dikembangkan menjadi pusat hiburan keluarga serta pusat kuliner oleh PT Didika Banua Jasa pimpinan Syukrowardi.

Koordinator Pengembangan Kawasan Terpadu Citra Plaza, Subhan Syarif membenarkan rencana pengembangan kawasan ke arah tersebut. “Setelah kami lakukan identifikasi serta inventarisasi kawasan, pusat hiburan keluarga dan kawasan kuliner paling potensial,” kata dia, baru-baru tadi.

Favehotel Banjarmasin

Subhan mengatakan, posisi kawasan yang berada dekat dengan pusat keramaian Kota Banjarbaru. “Dekat dengan Tugu Simpang Empat Kota Banjarbaru, dekat dengan kompleks perkantoran, serta berada dekat dengan kampus-kampus yang berada di Kota Banjarbaru,” tutur Subhan.

Posisi pusat kawasan kuliner nantinya bakal diposisikan di lantai pertama hingga menjalar ke bagian belakang gedung. Sedangkan pusat hiburan keluarga akan ditempatkan di lantai dua. “Vendor yang akan mengisi dua pusat kawasan tersebut sedang kami cari. Kami tertariknya mengembangkan hiburan outbound. Nanti akan dikabari lagi,” ujarnya.

Kapan kawasan ini akan beroperasi kembali, Subhan memasang target pertengahan tahun 2018. “Sekitar bulan Juni atau Juli. Nama kawasan ini juga akan diganti,” sebutnya.

Sebelumnya, selama bertahun-tahun kawasan terpadu ini hanya jadi gedung kosong yang tak terawat. Listrik pun tak mengalir. Akhirnya, kawasan yang berdekatan dengan Tugu Simpang Empat, Kota Banjarbaru ini gelap gulita.

Kepala Bidang Pengelolaan Barang Milik Daerah Badan Keuangan Daerah (BKD) Kalsel, Mirhan mengatakan sejak diserahkan oleh pengelola PT Pribumi Citra Mega Utama (PCMU) ketika tahun 2014 lalu, kawasan ini ditinggalkan secara serampangan. Kondisi kawasan yang ditinggalkan oleh perusahaan ini buruk. “Jadinya, kami sebagai pemilik tanah ini mengalami kesulitan mencari pihak ketiga yang mau menyewa. Untungnya, ada pihak ketiga yang bermohon menyewa belakangan waktu terakhir ini,” ungkapnya.

Berapa besaran nilai sewa kawasan terpadu ini? Mirhan mengatakan pembayarannya bersifat progresif. “Untuk tahun awal, pembayarannya sebesar Rp 375 juta, dan bakal terus meningkat,” kata dia. Pihak penyewa nantinya bakal melakukan pembayaran lima tahun sekali.

Pemprov Kalsel menyewakan kawasan ini agar mendapatkan manfaat dari hasil sewa. “Jelas kita akan mendapatkan keuntungan dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Segala bentuk penambahan bangunan oleh pihak ketiga juga bakal menjadi kepemilikan Pemprov,” terangnya.

Pengamat kebijakan publik dari FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi memaparkan bahwa aset yang dimiliki pemerintah memang sudah seharusnya tidak mubazir. Jika ada aset bangunan yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun, semestinya dengan lekas mencari jalan keluar agar aset yang dimiliki kembali berfungsi.

“Jangan hanya melibatkan internal pemerintah. Libatkan beragam lapisan masyarakat. Misalnya saja akademisi. Selama bertahun-tahun, kawasan ini kosong. Untungnya sekarang sudah ada yang mau mengembangkan kawasan. Intinya jangan sampai mubazir,” tuntasnya.(dom/gr/dye) 

BANJARBARU – Kawasan Terpadu Citra Plaza terbengkalai bertahun-tahun. Namun, Pemprov Kalsel baru saja menyewakan asetnya itu pada PT Didika Banua Jasa.

Pada tahun 2018, aset dengan luas 1,5 hektare ini bakal dikembangkan menjadi pusat hiburan keluarga serta pusat kuliner oleh PT Didika Banua Jasa pimpinan Syukrowardi.

Koordinator Pengembangan Kawasan Terpadu Citra Plaza, Subhan Syarif membenarkan rencana pengembangan kawasan ke arah tersebut. “Setelah kami lakukan identifikasi serta inventarisasi kawasan, pusat hiburan keluarga dan kawasan kuliner paling potensial,” kata dia, baru-baru tadi.

Favehotel Banjarmasin

Subhan mengatakan, posisi kawasan yang berada dekat dengan pusat keramaian Kota Banjarbaru. “Dekat dengan Tugu Simpang Empat Kota Banjarbaru, dekat dengan kompleks perkantoran, serta berada dekat dengan kampus-kampus yang berada di Kota Banjarbaru,” tutur Subhan.

Posisi pusat kawasan kuliner nantinya bakal diposisikan di lantai pertama hingga menjalar ke bagian belakang gedung. Sedangkan pusat hiburan keluarga akan ditempatkan di lantai dua. “Vendor yang akan mengisi dua pusat kawasan tersebut sedang kami cari. Kami tertariknya mengembangkan hiburan outbound. Nanti akan dikabari lagi,” ujarnya.

Kapan kawasan ini akan beroperasi kembali, Subhan memasang target pertengahan tahun 2018. “Sekitar bulan Juni atau Juli. Nama kawasan ini juga akan diganti,” sebutnya.

Sebelumnya, selama bertahun-tahun kawasan terpadu ini hanya jadi gedung kosong yang tak terawat. Listrik pun tak mengalir. Akhirnya, kawasan yang berdekatan dengan Tugu Simpang Empat, Kota Banjarbaru ini gelap gulita.

Kepala Bidang Pengelolaan Barang Milik Daerah Badan Keuangan Daerah (BKD) Kalsel, Mirhan mengatakan sejak diserahkan oleh pengelola PT Pribumi Citra Mega Utama (PCMU) ketika tahun 2014 lalu, kawasan ini ditinggalkan secara serampangan. Kondisi kawasan yang ditinggalkan oleh perusahaan ini buruk. “Jadinya, kami sebagai pemilik tanah ini mengalami kesulitan mencari pihak ketiga yang mau menyewa. Untungnya, ada pihak ketiga yang bermohon menyewa belakangan waktu terakhir ini,” ungkapnya.

Berapa besaran nilai sewa kawasan terpadu ini? Mirhan mengatakan pembayarannya bersifat progresif. “Untuk tahun awal, pembayarannya sebesar Rp 375 juta, dan bakal terus meningkat,” kata dia. Pihak penyewa nantinya bakal melakukan pembayaran lima tahun sekali.

Pemprov Kalsel menyewakan kawasan ini agar mendapatkan manfaat dari hasil sewa. “Jelas kita akan mendapatkan keuntungan dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Segala bentuk penambahan bangunan oleh pihak ketiga juga bakal menjadi kepemilikan Pemprov,” terangnya.

Pengamat kebijakan publik dari FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi memaparkan bahwa aset yang dimiliki pemerintah memang sudah seharusnya tidak mubazir. Jika ada aset bangunan yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun, semestinya dengan lekas mencari jalan keluar agar aset yang dimiliki kembali berfungsi.

“Jangan hanya melibatkan internal pemerintah. Libatkan beragam lapisan masyarakat. Misalnya saja akademisi. Selama bertahun-tahun, kawasan ini kosong. Untungnya sekarang sudah ada yang mau mengembangkan kawasan. Intinya jangan sampai mubazir,” tuntasnya.(dom/gr/dye) 

Most Read

Artikel Terbaru

/